DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

BALI ENERGY FORUM 2015 : “SECURING ENERGY SUSTAINABILITY FOR A BETTER FUTURE”

20 November 2015 Berita

Pada hari Rabu, 19 November 2015, telah dibuka penyelenggaraan Bali Energy Forum dengan tema “Securing Sustainable Energy for A Better Future” di Nusa Dua, Bali. Forum ini bertujuan untuk memperluas pandangan melalui berbagi pengetahuan dan pertukaran informasi yang berkaitan dengan kondisi ekonomi dan energi di masa depan. Untuk memperkaya cakupan diskusi, forum juga membahas kegiatan pengembangan energi terbarukan termasuk masalah pendanaan proyek antar pelaku di bidang energi yang berasal dari pemerintah, lembaga internasional di sektor energi, lembaga keuangan dan masukkan dari akademisi.

Forum dilaksanakan selama dua hari (19 – 20 November 2015) dengan program sebagai berikut:
- Sesi pembukaan
- Sesi I : Energy and Economic Outlook
- Sesi II : Financing Energy Infrastructures

Sebagai pembicara pada forum adalah Menteri Energi, Green Technology dan Air Malaysia dan para ahli di bidang energi, yang berasal dari Dewan Energi Nasional; International Energy Agency (IEA); Asia Pacific Energy Research Center; ASEAN Center for Energy; Economic Research Institute for East Asia (ERIA); World Bank; Energy Charter Secretariat; Danish Energy Agency dan PT Bank Mandiri. Forum dihadiri oleh 250 (dua ratus lima puluh) peserta yang berasal dari kementerian/lembaga yang bergerak di bidang energi dan dari wakil beberapa negara, organisasi internasional dan stakeholders di bidang energi.

Dari hasil pembahasan selama dua hari, aspek pertumbuhan energi menjadi perhatian para pembicara, baik IEA, AERC, Asean Centre for Energy dan Dewan Energi Nasional. pertumbuhan kebutuhan energi dunia sampai tahun 2035 akan terus meningkat dan dominasi pertumbuhan kebutuhan terbesar di dimonasi oleh negara negara Non-OECD, sementara pertumbuhan kebutuhan energi negara negara OECD tidak setinggi negara negara Non-OECD. Hal ini karena negara negara OECD telah mencapai kebutuhan energi yang stagnan. Negara-negara OECD mengarahkan pergeseran pemenuhan energinya dengan mengarahkan kepada sumber energi baru dan terbarukan. Dua tujuan yang ingin dicapai negara negara OECD mengarahkan kepada EBT, hal ini dilakukan untuk menggerakkan industri EBT sebagai bagian gerakan perekonomian di dalam negerinya dan konsistensi menjaga komitmen terhadap global warming. Dukungan domestik pemanfaatan EBT yang meningkat di negara OECD, karena GDP masyarakatnya telah mampu membayar harga energi sesuai nilai keekonomian.

Semantara bagi negara negara Non-OECD pemillihan pemanfaatan EBT harus selektif mengingat harga EBT yang masih relatif tinggi sehingga selalu mengharapkan dukungan feed in tariff dan insentif insentif lainnya. Kesalahan pemilihan jenis EBT yang berharga mahal, akan menjadi beban negara bagi yang berpenduk besar seperti Indonesia.

Dari sisi Indonesia telah disampaikan bahwa komitmen Indonesia ingin meningkatkan konstribusi EBT mencapai 23% atau setara 84 MTOE pada tahun 2025 dan mencapai 31% atau setara 310 MTOE pada tahun 2050 adalah sebagai komitmen nasional terhadap dunia agar Indonesia bisa berkonstribusi terhadap Perubahan Iklim. Upaya ini di pandang berat, tetapi sebagai komitmen Indonesia upaya ini tetap akan di maksimalkan. Di sisi lain upaya untuk mencapai konstribusi EBT yang besar tersebut, Indonesia akan berupaya agar kerjasama Internasional di bidang energi, tidak menjadikan Indonesia adalah pasar semata produk peralatan EBT. Sehingga dukungan Internasional terhadap upaya Indonesia, adalah dorongan Investasi dan berkonstribusi membantu menggerakkan perekonomian nasional dari sektor Energi.

Sementara pada hari kedua dilakukan pembahasan bagaimana strategi pembiyaan untuk mendorong akselerasi pemenuhan infrastruktur agar penyediaan energi dapat dipercepat dan gairah partisipasi sektor perbankan dapat tumbuh. Tetapi untuk mencapai upaya tersebut dukungan regulasi, terkait jaminan investasi masih diperlukan.

Bagikan berita ini

         

© 2016 - 2017 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.