DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Rantai Pasok EBT untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

05 April 2021 Berita

Oleh:

Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng., IPU.

Anggota Dewan Energi Nasional Periode 2020-2025

Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

 

Ketidakseimbangan ekosistem ekonomi salah satu diantaranya terjadi karena adanya kegagalan yang mengakibatkan hilangnya kemandirian dan ketahanan Industry. Hal itu mketika industri memiliki “ketidakmampuan” untuk tetap konsisten dalam menjaga stabilitas produksi, dan selalu memiliki reaksi negatif terhadap setiap guncangan termasuk berbagai akibat yang menyertainya.

Adopsi perhitungan pengeluaran biaya minimal dan efisien selalu perlaku pada setiap sistem penciptaan dan operasionalisasi industrial zone di Indonesia. Akibatnya sistem operasionalisasi tersebut berdampak terhadap “tingginya” biaya logistik saat berlangsungnya proses pendistribusian hasil industri menuju pasar export-import. Perlunya penataan ulang sistem logistik pada industrial zone yang telah tumbuh dan berkembang di Indonesia ke dalam tata ruang wilayah yang memadai terutama di Pulau Jawa,  bertujuan agar system logistic dan distribusi beroperasi secara efisien.

Paradigma ini akan mendorong para teknokrat untuk lebih berperan dalam meningkatkan kapasitas Iptek sistem produksi yang ramah lingkungan, membuat formulasi bisnis model yang tepat, serta mengawal sistem inovasi yang sesuai untuk menjaga keberlangsungan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di dalam bauran energi nasional secara lebih optimal, sehingga tradisi turun temurun dalam menciptakan pola “keseimbangan” antara “energi dan industri” dapat diintegrasikan pada seluruh variabel pertumbuhan ekonomi dengan memberikan perhatian secara khusus terhadap “degradasi” lingkungan hidup dan efek gas rumah kaca yang diakibatkan oleh buruknya kualitas udara di kawasan padat industri saat ini.

Rekonsiliasi diperlukan di berbagai kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan pemanfaatan EBT. Oleh karena itu ritme “keseimbangan pasokan energi EBT terhadap Industri harus tersusun objektif di dalam satu rancangan model ekonomi makro prediktif yang mampu menghitung kebutuhan jumlah total EBT di dalam neraca ketahanan dan kemandirian energi yang memungkinkan untuk menciptakan keseimbangan dalam menjaga ketersediaan pasokan energi bagi industri sehingga berdampak signifikan terhadap pertumbuhan dan pemulihan ekonomi negara.

Bagaimana memanfaatkan EBT di dalam skema tersebut??

Pada umumnya pembangunan sistem logistik dan pemanfaatannya “tidak” diciptakan menggunakan satu model yang sama. Justifikasi kawasan industri merupakan proses “penting” dan “strategis” yang berimplikasi pada “ketertarikan” entitas industri sebagai penyedia pasokan (supply), untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (demand). Salah satu proses yang digunakan untuk membangun Industrial Zone dengan sistem logistik dan operasionalisasinya secara lebih efektif dan efisien menggunakan skema Own Design Manufacturing (ODM), dengan mengutamakan keunggulan kompetitif, sesuai dengan tren-ekonomi global, dan berbasis pada keunikan lokal.

Sistem logistic dan pemanfaatannya akan “memainkan” peran tidak hanya sebagai penciptaan produk inovatif, tetapi juga sebagai pintu gerbang export produk industri nasional. Oleh karena itu, diperlukan “sistem dinamis” Renewable Energy Supply Chain (RESC) dalam mengintegrasi pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mendukung manajemen Outpost Factory tersebut, agar seluruh pengaplikasian “teknologi” pada seluruh bisnis proses di dalam bisnis model yang akan disusun dapat dioperasionalisasikan dengan maksimal.

Sistem Dinamis pada Renewable Energy Supply Chain (RESC)

Di Indonesia, potensi sumber EBT tersedia di berbagai lokus, namun eksploitasinya baru sebatas energi terbarukan saja, seperti; panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut, yang notabene selalu “fluktuatif” terhadap kapasitas dan waktu operasi pembangkit.

Implementasi Renewable Energy Supply Chain (RESC) dalam skema Own Design Manufacturing (ODM) Outpost Factory Mode merupakan update dari sistem manajemen logistik global, dari berbasis konvensional (efisiensi) menjadi peningkatan sistem operasionalisasi logistik yang fleksibel dan berketahanan (resiliensi). Implementasi RESC juga memiliki kemampuan dalam menyediakan pelayanan logistik global, utamanya kepada klien (customers) internasional. Kalkulasi Renewable Energy Supply Chain terhadap Sistem Dinamis Renewable Energy Supply Chain merupakan solusi dari seluruh permasalahan kapasitas maupun kehandalan pembangkit EBT, dalam rangka mencapai target pembangunan ekonomi. Dengan termanfaatkannya potensi maksimal EBT di dalam kawasan Outpost Factory, maka;

Pertama, kesadaran tentang pentingnya Industri berbasis konsep green-manufacture, green-logistic system dan green-product, dengan mengoptimalkan pendekatan circular ekonomi sebagai salah satu upaya menjaga keberlanjutan dalam meningkatkan pengelolaan rantai pasokan energi terbarukan dari perspektif holistik melalui pendekatan aspek dinamis, sehingga langsung berdampak terhadap pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Kedua, meningkatnya kinerja sumberdaya manusia di dalam kawasan mengikuti prinsip-prinsip tren ekonomi global, yaitu ketika; (1) struktur operasionalisasi Outpost Factory dapat mempengaruhi dan menentukan perilaku pasar, (2) memungkinkan Struktur sistem organisasi Outpost Factory yang didukung oleh teknologi “soft variable” (yaitu ketika pola komunikasi digital mempengaruhi pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen di masa depan), dan (3) berdampak langsung dan mampu merubah perilaku “mental” pasar yang berlaku saat ini.

Lalu, bagaimana Implikasi Strategis pemanfaatan RESC?

Sistem Integrasi green ecosystem dan circular ekonomi di dalam RESC memiliki peluang agar industri nasional dapat meningkatkan kapasitas produksi berbasis pada pelestarian lingkungan, memiliki kelayakan ekonomi jangka Panjang dan memiliki keberlanjutan di dalam interaksi global.

Dampak pemanfaatan RESC secara langsung memungkinkan terwujudnya peningkatan PDB nasional melalui; manfaat pajak, subsidi modal investasi, biaya tenaga kerja yang lebih kompetitif, dan lokus transportasi yang nyaman serta dekat dengan pasar,  sehingga biaya produksi dan operasi menjadi lebih rendah dan dapat diukur

Rekonsiliasi  dalam mendorong ketahanan dan kemandirian rantai pasok EBT perlu dilakukan terutama untuk meningkatkan kapasitas dan jumlah pembangkit energi berskala besar yang handal dan ramah lingkungan.

 

Penulis adalah anggota Dewan Energi Nasional Republik Indonesia Periode 2020-2025.

 

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.