DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Potensi Renewable Energi Indonesia: Residu biomassa dari Sektor Kelapa Sawit

18 Mei 2011 Berita
Saat ini Indonesia telah menjadi eksportir crude Oil Palm (CPO) terbesar di dunia, dengan produksi tahun ini mencapai 22 juta ton dan diperkirakan menyumbang hampir 50% kebutuhan CPO dunia. Posisi strategis tersebut memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah International Conference & Exhibition on Palm Oil (ICE-PO 2011) yang dilaksanakan pada tangal 12 Mei 2011, di Jakarta Convention Center yang dihadiri oleh produsen dan konsumen CPO dunia,  salah satu topik yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut adalah tentang teknologi pengolahan sawit untuk energi.
 
Sebagaimana diketahui, bahwa dalam mengolah tandan buah kelapa sawit menjadi CPO, didapatkan by-product berupa limbah atau residu biomassa. Residu biomassa dapat dibagi menjadi dua, yakni residu padat antara lain EFB (tandan buah kosong), mesocarp fibres (serat daging buah), shells (batok), fronds (daun pelepah), trunk (batang pohon), dan residu cair atau biasa disebut Palm Oil Mill Effluent atau POME. Dalam salah satu sesi konferensi di forum tersebut. Dari data Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI) diketahui bahwasecara keseluruhan, potensi energi dari residu biomassa kelapa sawit Indonesia adalah:
 
 
Residu Biomassa
Potensi energi
TJ/year
Padat
 
EFB
152.000
Mesocarp fibres
133.000
Palm Kernel Shells
110.000
Palm Tree Trunks
260.000
Fronds
1.227.000
Cair
 
POME
40.300 (biogas)
Potensi berdasarkan data produksi CPO tahun 2009 sebanyak 20,9 juta ton
 
 
EFB umumnya  diolah menjadi gula yang kemudian dapat diolah menjadi cellulosic biofuel, namun demikian net-energy ratio dari pengolahan EFB menjadi cellulosic biofuel ini masih perlu dihitung. Sedangkan POME umumnya diolah lebih lanjut menjadi biogas, dan merupakan cara yang ekonomis dan efektif dalam mengurai limbah cair.
 
Dalam forum tersebut beberapa perusahaan pengolah sawit mempresentasikan kesuksesannya dalam mengolah limbah biomassa khususnya POME untuk menghasilkan biogas. Setiap 1 meter kubik POME akan dihasilkan 28 meter kubik biogas. Bahkan salah satu mill-nya, telah mampu menghasilkan listrik sebesar 72 MWH.
 
Sesuai Kriteria praktek keberlanjutan atau RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) butir 5.3. Tentang pengolahan limbah, disebutkan bahwa limbah harus dikurangi, didaur ulang, dipakai kembali, dan dibuang dengan cara-cara bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial.
 
Bagaimanakah potensi pengembangan limbah biomassa dari kelapa sawit menjadi energi?. Masalah yang umum dijumpai dalam pengembangan Renewable Energy adalah lemahnya koordinasi lintas sektor. Misalkan seorang pemilik mill CPO di Indonesia, yang dalam upayanya memenuhi kriteria sertifikasi keberlanjutandan mendapat nilai tambah, merencanakan untuk mengolah limbah POME yang dihasilkannya untuk menjadi biogas, yang kemudian dipakai untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Mengingat potensi energi dari CPO yang cukup menjanjikan, maka perlu segera dilakukan pengaturan tentang harga jual dan peraturan lainnya yang diperlukan untuk pembeli seperti halnya yang sudah berjalan di sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) panas bumi. (SM)
Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.