DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Dimensi dan Indikator Menuju Transisi Energi Indonesia untuk Net Zero Emission 2060

11 September 2021 Berita

Jakarta, 11/9/2021. Sekretaris Jenderal DEN Djoko Siswanto menjadi pembicara pada The Energy Sight dengan Tema Ketahanan Energi Nasional: Dimensi dan Indikator Menuju Transisi Energi Indonesia untuk Net Zero Emission 2060 secara virtual yang diselenggarakan oleh The Purnomo Yusgiantoro Center.

Filda C. Yusgiantoro, Chairman The Purnomo Yusgiantoro Center mengatakan bahwa tujuan kegiatan Energi Sight (Ensight) adalah untuk memfasilitasi diskusi antara masyarakat dan professional khususnya mengenai isu sektor energi untuk meningkatkan awareness dan memberikan insight khususnya bagi kalangan milenial dan masyarakat umum lainnya. Filda juga menambahkan bahwa isu ketahanan energi dan transisi energi merupakan isu hangat saat ini, oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan mengenai isu tersebut.

Dalam kesempatan ini, Djoko Siswanto yang akrab disapa Djoksis menjelaskan definisi ketahanan energi menurut PP No.79 tentang KEN adalah suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Ketahanan energi Indonesia ditinjau dari 4 aspek, yaitu: 1. harga terjangkau (affordability), adalah keterjangkauan biaya investasi energi, mulai dari biaya eksplorasi, produksi dan distribusi, hingga keterjangkauan konsumen terhadap harga energi, 2. ketersediaan energi (availability), adalah ketersediaan sumber energi dan energi baik dari domestik maupun luar negeri, 3. kemampuan akses (accessibility), adalah Kemampuan untuk mengakses sumber energi, infrastruktur jaringan energi, termasuk tantangan geografik dan geopolitik, dan 4. ramah lingkungan (acceptability), adalah penggunaan energi yang peduli lingkungan (darat, laut dan udara) termasuk penerimaan masyarakat (nuklir dsb) .DEN telah melakukan penilaian ketahanan energi nasional secara berkala sejak tahun 2014 dan hasilnya menunjukkan tren positif. Perhitungan Indeks Ketahanan Energi Nasional yang telah dilakukan dengan menggunakan metodologi expert judgment dan didapatkan angka terakhir sebesar 6,57 dengan kategori Tahan.

Disamping itu, Djoksis juga memaparkan mengenai transisi energi, dalam paparannya Djoksis menjelaskan bahwa transisi energi merupakan hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, selain itu trend menuju era EBT dan ramah lingkungan merupakan trend yang dilakukan diseluruh negara saat ini. Strategi transisi energi rendah karbon dilakukan melalui energi fosil dengan menerapkan teknologi bersih, percepatan pengembangan energi baru terbarukan dengan kendaraan listrik dan hidrogen, dan pengembangan smartgrid serta smart energi dengan konservasi energi. Disamping itu, kedepannya dalam hal penggunaan energi perlu dikembangkan teknologi ramah lingkungan dengan teknologi carbon capture (minyak dan gas bumi), sedangkan pada batubara dengan coal gasification dan coal liquefaction.

Djoksis juga menjelaskan mengenai Grand Strategi Energi Nasional (GSEN). GSEN memiliki visi terwujudnya bauran energi nasional berdasarkan prinsip keadilan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan guna terciptanya ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi. Dalam GSEN solusi atau program strategis antara lain mempercepat pemanfaatan pembangkit EBT sebesar 38 GW tahun 2035 (PLTS dan EBT lainnya) dan meningkatkan produksi minyak mentah (crude) 1 juta bopd serta akuisisi lapangan minyak luar negeri untuk kebutuhan kilang, ujarnya. Djoksis juga memaparkan mengenai menghentikan impor BBM (gasoline dan diesel), pengembangan EBT, dan sebagainya.

Dalam penutupannya Djoksis menyampaikan bahwa ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi dapat terwujud dengan pemanfaatan sumber energi dalam negeri melalui 16 program GSEN untuk mengurangi impor BBM dan LPG secara signifikan, target Paris Agreement sejalan dengan target 23% EBT pada tahun 2025 terutama melalui pengembangan PLTS, efisiensi pembangkit, smart grid dan membuka peluang pasar energi bersih pada system ASEAN Power Grid. (Teks: AM, Grafis: Rio)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.