DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Masa Depan Energi Geothermal

30 September 2021 Berita

Jakarta, 30/9/2021. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel Ibrahim menjadi narasumber program Zooming With Primus di Berita Satu News Channel. Program yang dipandu Primus Dorimulu ini membahas mengenai Masa Depan Energi Geothermal. Dalam program tersebut dihadiri juga oleh Direktur Panas Bumi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi KESDM (EBTKE) Harris dan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talottov.

Primus membuka diskusi bahwa Geothermal merupakan salah satu harta karun yang dimiliki oleh negeri ini, sebagai negara yang terletak di ring of fire, Indonesia kaya akan energi panas bumi. Saat ini kapasitas terpasang energi panas bumi di Indonesia sekitar 2.131 MW. Kapasitas ini merupakan terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Panas Bumi sebagai energi baru terbarukan (EBT) perlu dimanfaatkan guna menekan penggunaan energi fosil dan mempercepat terwujudnya net zero emission (NZE) 2060. Untuk mengoptimalkan energi panas bumi pemerintah berencana membentuk Holding Geothermal Indonesia (HGI).

Herman Darnel Ibrahim yang akrab disapa HDI menjelaskan saat ini keinginan untuk mengganti batubara dalam peta energi memang harus secepatnya namun tetap harus menunggu kelayakan harga dari EBT yang semakin baik atau terjangkau. Saat ini program transisi energi inilah yang sedang dikalkulasi oleh tim gugus tugas antar Kementerian dan juga oleh DEN. Apabila ingin mengganti skala batubara dalam jumlah besar bisa terwujud setelah kita telah mencapai puncak emisi atau puncak penggunaan energi fosil yang diperkirakan paling cepat tahun 2045.

“Kita perlu fokus sebagaimana dalam arahan Kebijakan Energi Nasional (KEN) bagaimana memaksimalkan EBT, jadi jika dalam hal panas bumi bagaimana kita memaksimalkan yang dapat dieksploitasi, penggantian atau penekanan penggunaan energi fosil akan bisa terwujud apabila yang akan menggantikannya sudah siap, dalam hal ini yang dimaksud adalah energi panas bumi,” ujarnya

Harris selaku Direktur Panas Bumi EBTKE menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya panas bumi yang sangat besar yaitu 23,76 GW dengan pemanfaatan sebesar 2,17 GW atau hanya 9,1% dari total potensi yang ada. Oleh karena itu, optimalisasi panas bumi diperlukan agar dapat dilakukan pemanfaatan potensi panas bumi di wilayah lain di Indonesia.

Haris menambahkan harapan kedepannya agar pengembangan panas bumi ini bisa mencapai 9.300 MW sampai di tahun 2035. Dalam pengembangan energi surya yang saat ini menjadi fokus pemerintah, peran dari energi panas bumi juga sangat penting. Sebab pengembangan energi surya juga memiliki keterbatasan terkait intermitten, sehingga tidak bisa 100% mengandalkan energi surya.

Ekonom INDEF Abra Talottov menjelaskan potensi geothermal masih sangat besar sekali dan dalam memanfaatkannya baru 9,8%. Dalam potensi yang sangat besar dan pemanfaatan yang masih sangat minim tentu tujuan utamanya ingin manfaatnya bisa dinikmati agar masyarakat sejahtera.

“Saat ini yang menjadi penghambat dalam pengembangan investasi EBT yakni dari sisi biaya yang masih belum kompetitif. Kita bisa mengurangi biaya inovasi di EBT yang masih mahal, perlu dilacak lebih dini yakni dimana peran negara untuk mengurangi beban, misalnya dari sisi perijinan, maka dari itu pemerintah perlu mempermudah regulasi untuk menarik investor,” tambah Abra.

Diakhir, Primus menyimpulkan bahwa masa depan geothermal sangatlah cerah karena sumber panas bumi di Indonesia cukup banyak dan yang menarik adalah banyak terdapat di Indonesia Bagian Timur sehingga ini harus dikelola dengan baik. Harapannya HGI yang akan dibentuk ini benar-benar untuk membantu masyarakat sekitar yang terdapat sumber panas bumi dan bukan untuk dikomersialkan. (Teks: RAD-CTA, Grafis: CTA, Editor: KDW)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.