DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

DEN gelar FGD Strategi Percepatan Pengembangan Industri Baterai KBLBB Nasional

08 Oktober 2021 Berita

DEN bersama dengan Pusat Pengembangan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) gelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Strategi Percepatan Pengembangan Industri Baterai Nasional (Solo, 8/10/21). Acara ini dipimpin oleh Anggota DEN As Natio Lasman, dan dihadiri oleh Anggota DEN Agus Puji Prasetyono, Musri, Herman Darnel Ibrahim, Yusra Khan, Satya Widya Yudha, Daryatmo, Kepala Biro Fasilitasi Kebijakan Energi dan Persidangan Yunus Saefulhak, Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Bahan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BRIN Prof. Eniya Listiani D., Ketua Pusat Unggulan Iptek PT. TPELBL UNS Agus Purwanto, dan Kepala Kantor B2TKE BRIN Dr. Barman Tambunan APU.

Pada kesempatan ini, Kepala Biro Fasilitasi Kebijakan Energi dan Persidangan Yunus Saefulhak mewakili Sekretaris Jenderal DEN mengawali dengan menyampaikan tugas dan fungsi DEN.

As Natio, menyampaikan sesuai dengan pengembangan EBT maka strategi percepatan pengembangan industri baterai KBLBB sangat penting karena sudah masuk dalam program Gran Strategi Energi Nasional (GSEN) dan Renstra DEN 2020-2025. Tujuan dari FGD ini yaitu untuk memperoleh perspektif arah kebijakan memperoleh masukan/tanggapan narasumber/peserta terkait potensi pengembangan teknologi dan industri baterai nasional skala komersial.

Ditambahkan, beberapa rekomendasi terhadap strategi percepatan pengembangan baterai antara lain yaitu Pemerintah perlu mendorong kegiatan eksplorasi untuk meningkatkan potensi sumber daya dan cadangan mineral logam tanah jarang dan kegiatan pemurnian/pengolahan logam tanah jarang, berupa capacity building, penerapan proven teknologi, pendanaan, insentif fiskal/non fiskal , kemudahan perizinan. Selain itu, industri baterai dan kendaraan listrik sebagai salah satu program prioritas nasional perlu didorong karena Indonesia memiliki pasar dan potensi industri KBLBB yang terintegrasi.

Pada penutup paparan, As Natio menyampaikan perlu adanya penguatan TKDN dalam pengembangan SPKLU dan SPBKLU terkait keekonomian proyek, integrasi rantai pasok dalam negeri, ketersediaan teknologi sudah komersial dan kompetitif, dukungan komponen impor, kepastian produksi, legalitas dan bentuk kerja sama usaha.

Agus Purwanto, mengatakan PUI berperan sebagai pusat penelitian dan pembinaan kepada masyarakat. Pada tahun 2013, PUI mulai mengembangkan Mobil Listrik Nasional (MOLINA), tahun 2015 pembuatan modul dan tahun 2020 PUI menciptakan baterai lithium UNS. PUI telah bermitra dengan beberapa stakeholder terkait dengan lisensi, kerjasama operasional, joint venture dan start-ups.

Herman Darnel Ibrahim yang akrab disapa HDI, mengatakan dalam pengembangan baterai KBLBB perlu mempertimbangkan standar nasional atau bisa mengadopsi dari negara lain standar baterai untuk kendaraan listrik yang telah berhasil dikembangkan. Harapan HDI agar ke depan pabrik baterai utk KBLBB di Indonesia dapat berkembang.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Eniya menyampaikan Pemerintah harus mengambil porsi dalam penciptaan pasar awal, seperti pengadaan kendaraan listrik dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Upaya lainnya yaitu mendorong agar Pemerintah menggunakan mobil listrik sebagai mobil dinas.

Lebih lanjut, adanya pemberian subsidi diberikan tidak hanya kepada produsen namun juga konsumen. Peran Pemerintah Daerah sangat besar untuk mendorong implementasi kendaraan listrik. Industri dalam negeri juga perlu diberi kesempatan dengan memberikan kontrak multiyears minimal 5 tahun agar bisa berkembang, imbuhnya.

Senada, Satya Widya Yudha memberikan pandangan bahwa perlunya intergovernmental keterlibatan lintas sektor seperti penyusunan kebijakan pengalihan subsidi kepada pembeli KBLBB yang melibatkan Kementerian Keuangan, kebijakan insentif kredit kepemilikan melibatkan BI dan OJK, kebijakan konversi mesin konvensional menjadi KBLBB melibatkan Kementerian Perhubungan. Selain itu, perlu juga ada keterlibatan BSN terkait standarisasi, dan keterlibatan pihak lainnya seperti Kementerian ESDM, BPPT, Kementerian LHK, Kemendagri, dan stakeholder lainnya agar saling berintegrasi.

Barman menyampaikan bahwa saat ini BPPT sedang fokus pada pengembangan fast charging battery pack. Prosedur uji battery pack sudah melalui SNI. Selain itu, pengembangan baterai juga memperhatikan penggunaan potensi TKDN.

Dalam membuat produk akhir perlu memperhatikan hak cipta yang terjamin. Semua yang terlibat dalam produksi harus mengajukan hak cipta, ujar Daryatmo.

As Natio menutup dengan menyampaikan beberapa kesimpulan antara lain peluang baterai meliputi baterai kendaraan listrik, battery swap, uninterupable power supply (UPS), BSS for industrial/charing station, mobile battery generator, powerwatt, dan battery drone, komersialisasi baterai tergantung regulasi, serta strategi integrasi sumber daya pada industri baterai nasional, antara lain meningkatkan nilai tambah ore (bijih) nikel yang selama ini diekspor.
(Teks: RAD, Infografis: AM, Editor: KDW)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.