DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

DEN Bersama BRIN Gelar FGD Strategi Pembangunan Energi

08 Oktober 2021 Berita

Yogyakarta, 7 Oktober 2021. DEN bersama dengan BRIN menyelenggarakan FGD dengan tema Strategi Pembangunan Energi untuk Mewujudkan Industrialisasi Berwawasan Lingkungan yang diselenggarakan di Pusat Sains Dan Teknologi Akselerator (PSTA) secara fisik dan virtual. Hadir pada FGD ini Anggota DEN Agus Pudji Prasetiyono, Herman Darnel Ibrahim, As Natio Lasman, Musri, Yusra Khan, Eri Purnomohadi, Satya Widya Yudha, Daryatmo, Kepala Biro Fasilitasi Kebijakan Energi dan Persidangan Yunus Saefulhak serta stakeholder terkait.

Plt. Kepala Pusat Riset dan Akselerator, BRIN, Imam Kambali mengatakan mendukung pengembangan PLTN kedepannya, selain itu Imam juga mengingatkan bahwa energi nuklir di negara lain sudah dikembangkan baik skala kecil sampai dengan besar, sedangkan di Indonesia masih tersendat dalam tahap riset. Oleh sebab itu Imam berharap melalui FGD ini dapat menjadi awal baik bagi pengembangan PLTN di Indonesia kedepannya.

Anggota DEN, Agus Puji menjelaskan bahwa tujuan FGD ini adalah untuk memperoleh masukan/tanggapan dari para pemangku kepentingan dalam rangka membantu DEN untuk menyusun kajian akademis terkait strategi pembentukan NEPIO, selain itu untuk mengetahui kesiapan BRIN dan Universitas dalam pembangunan dan pengoperasian teknologi PLTN skala komersial dan penyiapan SDM ketenaganukliran, status PLTN di dunia, potensi PLTN dalam bauran energi nasional dan transisi energi menuju net zero emission (NZE).

Agus Puji memaparkan mengenai Strategi Pembentukan Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO), dalam paparannya Agus menjelaskan bahwa dalam pengembangan nuklir masih memiliki kendala. Menurut IAEA mengenai kesiapan nuklir dijelaskan bahwa dari 19 point infrastruktur energi nuklir di Fase 1 (Pengambilan Keputusan untuk Go Nuklir) terdapat 16 item selesai dan 3 item perlu dipersiapkan, antara lain: posisi nasional, pembentukan NEPIO dan keterlibatan pemangku kepentingan. Agus juga menyampaikan bahwa DEN telah mengusulkan kepada Menteri ESDM selaku Ketua Harian DEN untuk memperkuat posisi nasional dalam memastikan pembangunan PLTN, serta memperkuat komitmen Pemerintah dengan membentuk NEPIO. “DEN juga saat ini sedang merumuskan Konsep Surat Keputusan Tim Persiapan Pembentukan NEPIO yang akan dikirimkan kepada Menteri ESDM selaku Ketua Harian DEN” pungkas Agus.

Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gajah Mada (UGM), Deen Darlianto menyampaikan UGM mengeluarkan Buku Putih Nuklir Nasional yang isinya terkait dengan proyeksi energi, kesiapan SDM dan industri untuk pengembangan nuklir nasional. UGM pernah melakukan kajian terkait ketahanan energi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil studi menyatakan bahwa listrik yang handal sangat diperlukan untuk pembangunan daerah. Setiap investasi untuk pengembangan listrik, berpotensi menghasilkan 3,6 kali lipat pertumbuhan perekonomian daerah. Investasi di sektor ketenagalistrikan juga dibutuhkan untuk mencapai target pemanfaatan kendaraan bermotor listrik yang ditargetkan dalam RUEN. Mengacu kepada semua itu, UGM telah memproyeksikan akan terjadi gap besar antara suplai dan demand energi. Karena berdasarkan studi oleh Widodo et. Al (2019), 29% target pengurangan emisi Indonesia (sesuai dengan NDC) merupakan angka yang optimal untuk perekonomian.

Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Tenaga Nuklir-Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORTN BRIN) Anhar Riza Antariksawan memaparkan small modular reactor (SMR) adalah advanced reactor dengan kapasitas up to 300 MWe dan dapat ditransportasikan ke lokasi instalasi, module per module. SMR diharapkan akan segera dapat dimanfaatkan secara komersial. Kajian data menyatakan bahwa nuklir merupakan sumber energi yang lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan minyak bumi, batubara dan gas alam, apabila dilihat dari angka emisi karbon yang dihasilkan per GW listrik serta tingkat kematian. Teknologi keselamatan PLTN sudah cukup namun industri nuklir harus terus meyakinkan publik untuk memperbaiki tingkat keselamatan. Aspek regulasi terkait PLTN diharapkan dapat menyesuiakan dengan perkembangan teknologi nuklir.

Deputi ORTN BRIN, Edi Giri menjelaskan terdapat beberapa program dan skema pendukung yang disiapkan BRIN untuk mengakselerasi kesiapan sumber daya manusia (SDM) industri nuklir yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa aktif S1, S2, dan S3, maupun para expertis dan diaspora.

Dalam penutupannya Agus menyampaikan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung pengembangan nuklir di Indonesia, antara lain: melakukan kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan, kelembagaan, dan pendanaan dalam persiapan pengembangan PLTN, membangun PLTN pada tahap awal menggunakan small modular reactor (SMR) khususnya di kawasan industri yang dapat menyesuaikan kebutuhan, dan sebagainya.

Isu-isu penting dalam pengembangan PLTN di Indonesia, antara lain aspek kesiapan regulasi (menyesuaikan dengan perkembangan teknologi) diantaranya UU ketenaganukliran, pemanfaatan TKDN, transfer teknologi terutama generasi IV dari beberapa negara (China, Jepang, AS), mengintensifkan berbagai riset dan inovasi penguasaan teknologi khususnya generasi IV, dan kesiapan SDM yang membangun, mengoperasikan dan memelihara PLTN, tambah Agus. (Teks: RAD, AM, Infografis: AM, Editor: KDW)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.