DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Bagaimana Persiapan Indonesia untuk Konferensi Iklim di Glasgow?

21 Oktober 2021 Berita

Jakarta, 21/10/2021. Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha menjadi narasumber dalam Diskusi Publik Jelang COP-26 “Bagaimana Persiapan Indonesia untuk Konferensi Iklim di Glasgow?” yang diselenggarakan oleh Changeorg Indonesia secara daring. Kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber lain yaitu Staf Khusus Menteri Keuangan Sherpa for The Coalition of Finance Ministers for Climate Action, Masyita Crystallin.

Dalam paparan pembukanya, Satya menyampaikan bahwa komitmen Bapak Presiden pada Leaders Summit On Climate terdapat tiga poin antara lain yang pertama melaksanakan aksi konkrit perubahan iklim melalui moratorium konversi hutan dan lahan gambut untuk menurunkan kebakaran hutan hingga 82%. Yang kedua adalah mendorong green development melalui pengembangan Green Industrial Park seluas 12.500Ha di Kalimantan Utara dan yang terakhir adalah membuka investasi transisi energi melalui pengembangan BBN, industri baterai litium, dan kendaraan listrik. “setelahnya pada pertemuan G20, Indonesia akan terus berupaya mengatasi isu-isu terkait akses energi, teknologi cerdas dan bersih, dan pembiayaan di sektor energi sebagai langkah-langkah dalam mendukung pencapaian target Paris Agreement”, ujarnya.

Lebih lanjut Satya menjelaskan bahwa Nationally Determined Contribution (NDC) di sektor energi pada Tahun 2020 lebih bagus yaitu 64,4 Juta Ton dari target yang dicanangkan sebesar 58 Juta Ton. “Yang dilakukan di sektor energi antara lain apabila kita menggunakan energi baru terbarukan, kita mampu menurunkan emisi hingga sebesar 34 Juta Ton, kemudian efisiensi energi mampu menurunkan sebesar 12,9 Juta Ton, kemudian bahan bakar rendah karbon sebesar 8,3 Juta Ton, penggunaan teknologi pembangkit bersih sebesar 5,9 Juta Ton dan kegiatan lain sebesar 2,7 Juta Ton”, imbuhnya.

Diakhir Satya menyampaikan langkah Pemerintah dalam mencapai target energi baru terbarukan dan penurunan emisi gas rumah kaca antara lain dengan meningkatkan pelaksanaan program menyeluruh dan efektif sesuai target Paris Agreement. Kemudian dengan mempercepat peningkatan teknologi inovatif dan memobilisasi pembiayaan yang cukup untuk melaksanakan program Pemerintah. Selain itu juga menetapkan kebijakan dan regulasi, serta melaksanakan rencana aksi mitigasi di sektor energi dengan target penurunan emisi GRK sebesar 314,03 Juta ton di Tahun 2030.

Sementara itu Staf Khusus Menteri Keuangan Sherpa for The Coalition of Finance Ministers for Climate Action, Masyita Crystallin menyampaikan bahwa diharapkan apabila nanti carbon price dan carbon market ini sudah tercipta, Kementerian Keuangan telah menyiapkan mekanisme lain diluar insentif yang akan mengkompensasi perusahaan yang berhasil melakukan adopsi teknologi baru sehingga emisinya turun dan akan terkompensasi di carbon market. (Teks: CTA, Editor: KDW)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.