DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Satya: Sudah Ribuan Customer Gunakan Solar Rooftop

25 November 2021 Berita

Anggota Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha menjadi salah satu narasumber dalam Asia Solar Forum “Lessons Learnt and Government Support for Solar PV Development” yang diselenggarakan secara daring oleh METI dalam rangkaian gelaran The 10th Indonesia EBTKE Conex New renewable Energy and Energy Conservation 2021. Dalam gelaran acara terebut juga turut hadir narasumber lainnya yaitu Yovie Priadi, Direktur Utama EMITS Indonesia, Yohanes Bambang, Ketua PPLSA, Bernard Casey, COO APAC mainstream Renewable Power, dan Miroslav Dijakovic, Cleantech Singapore serta Bruce Li, VP Huawei Asia Pacific

Dalam kesempatan paparannya, Satya menekankan pidato Presiden Republik Indonesia dalam pertemuan COP 26 yang salah satunya adalah pengembangan industry kendaraan listrik kemudian pembangunan solar cell yang terbesar di asia tenggara serta pengembangan Green Industrial Park di Kalimantan Utara. “Menurut Bapak Presiden tentunya ini membutuhkan dukungan internasional dan kontribusi dari Negara maju”, ujarnya.

Lebih lanjut Satya menjelaskan bahwa Nationally Determined Contribution (NDC) di sektor energi pada Tahun 2020 lebih bagus yaitu 64,4 Juta Ton dari target yang dicanangkan sebesar 58 Juta Ton. “Yang dilakukan di sektor energi antara lain apabila kita menggunakan energi baru terbarukan, kita mampu menurunkan emisi hingga sebesar 34 Juta Ton, kemudian efisiensi energi mampu menurunkan sebesar 12,9 Juta Ton, disamping itu bahan bakar rendah karbon sebesar 8,3 Juta Ton, penggunaan teknologi pembangkit bersih sebesar 5,9 Juta Ton dan kegiatan lain sebesar 2,7 Juta Ton”, imbuhnya.

Satya juga menjelaskan perkembangan pemanfaatan solar rooftop di Indonesia yang hingga September 2021 sudah mencapai 39,28 MWp. “Sudah ada setidaknya 4.262 customer yang sudah menggunakan solar rooftop. Penggunaan solar rooftop tersebut didominasi diwilayah Jawa Barat, kemudian DKI Jakarta dan disusul Jawa Tengah dan DIY”, ucapnya. Diakhir Satya menyampaikan bawasannya transisi energi ini tentunya harus dilakukan sampai akhirnya energi baru terbarukan dapat menggantikan energi fosil. Indonesia terus akan berusaha mengakselerasi pengembangan energi baru terbarukan seperti kendaraan listrik, smart grid, smart energy dan juga konservasi energi.

Senada denga apa yang disampaikan oleh Satya, Nizhar Marizi yang mewakili Bappenas juga menyampaikan poin utamanya tentang pengembangan PLTS Atap. Untuk bangunan pemerintah telah diberlakukan kewajiban pemanfaatan sel surya minimum sebesar 30% dari luas atap. Sedangkan untuk bangunan komersial adalah sebesar 25% dari luas atap bangunan rumah mewah, kompleks perumahan, apartemen, dan kompleks melalui izin mendirikan bangunan. “EBT diprioritaskan untuk PLTS karena biaya investasi semakin rendah salah satunya melalui pemanfaatan PLTS Atap”, pungkasnya.

Sementara itu Yovie Priadi, Direktur Utama EMITS Indonesia mengungkapkan bahwa Indonesia perlu mandatori program untuk melakukan peralihan ke penggunaan rooftop solar. “kami juga berharap pemerintah dapat memberikan program subsidi untuk mempercepat pemanfaatan rooftop solar dan industri baterai”, imbuhnya. (Teks: CTA, Edtr: KDW, Grafis: OT)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.