DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

DEN Dukung Strategi Pengurangan Emisi Karbon di Sektor Migas

30 November 2021 Berita

Bali, 30/11/2021. Anggota DEN Satya Widya Yudha menjadi keynote speaker pada Low Carbon Initiatives Forum “Carbon Emission Reduction Strategy in Oil dan Gas Industry” yang diselenggarakan secara daring oleh SKK Migas dalam rangkaian gelaran 2021 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas Concurrent Forum.

Dalam sambutannya, Satya menyampaikan Indonesia telah berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim. Target ratifikasi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia pada tahun 2030 adalah 29 persen (upaya nasional) dan 41 persen (dukungan internasional). “38 persen target reduksi emisi berasal dari sektor energi dan Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK hingga 314 – 446 juta ton CO2 di tahun 2030”, imbuhnya.

Langkah pemerintah dalam mencapai target penurunan emisi adalah melaksanakan rencana aksi mitigasi di sektor energi dengan target penurunan emisi GRK sebesar 314,03 juta ton CO2 di 2030 melalui pemanfaatan energi terbarukan (170,4 juta ton CO2), konservasi energi (96,3 juta ton CO2), pembangkit energi bersih (31,8 juta ton CO2), fuel switching (10,02 juta ton CO2), dan reklamasi pasca tambang (5,46 juta ton CO2), pengurangan fugitive gas (industri migas), menuju zero flaring dan venting, penerapan CCS (Carbon Capture and Storage) dan CCUS (Carbon Capture Utilization and Storage) serta peningkatan kendaraan listrik.

Lebih lanjut, Satya menegaskan dalam paparannya banyak upaya yang harus dilakukan disektor hulu migas untuk mengurangi emisi karbon dimulai dari Pengeboran, Flaring, Fugitive Emission/ Venting CH4, Crude Transport, Refinery heat & power system, Hydrogen production/FCC emission, Fugitive Emission CH4.

Disamping itu, Satya mengapresiasi rencana penggunaan CCUS yang akan dilakukan BP Tangguh, Repsol di Lapangan Sakakemang, dan bantuan Jepang untuk Lapangan Gundih dalam mekanisme JCM (Joint Credit Mechanism).

Ungkapnya DEN mendukung tahapan-tahapan yang dilakukan SKK Migas melalui berbagai kebijakan dan regulasi yang diperlukan, pengelolaan energi yang efisien, zero routine flaring, pengurangan emisi yg fugitive, melakukan reforestrasi, Penerapan teknologi CCS/CCUS.

Langkah ini perlu dijalankan oleh seluruh KKKS di Indonesia.

Pada akhir sambutannya, Satya yang merupakan lulusan Cranfield University UK ini menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan dukungan dan kontribusi internasional dari negara-negara maju. Pembiayaan dan pendanaan dari negara maju merupakan game changer dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara berkembang sehingga Indonesia diharapkan akan dapat berkontribusi lebih cepat terhadap emisi nol bersih dunia.

Manager Senior Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lindung Lingkungan SKK Migas Kosario M. Kautsar menegaskan bahwa benchmarking kinerja HSE (Health Safety Environment) mengacu pada best practice industri migas di dunia dan sesuai dengan konsep PSC (Production Sharing Contract) dimana kontraktor PSC mengampu aspek modal dan teknologi untuk dapat menerapkannya. Diharapkan industri hulu migas dapat mencapai IOGP (International Association of Oil and Gas Producers) standard pada 2025 dan worldwide standard pada 2030.

CEO dan Co-Founder Earth Wind & Power Ingvil Smines Tybring-Gjedde dan Kristian Utkilen menyampaikan bahwa Earth Wind & Power mempunyai misi untuk mengubah kelebihan energi menjadi nilai komersial dan sosial dengan memanfaatkan peluang dari permintaan daya komputasi kinerja tinggi (High Performance Computing) yang tumbuh secara eksponensial didorong oleh teknologi baru yang muncul. Komputasi HPC (High Performance Computing) dan Blockchain Earth Wind & Power didasarkan pada inovasi teknologi yang telah terbukti dan kerangka kerja komersial serta berkelanjutan, mulai dari sumber energi hingga hasil akhir.

Senior Vice President Research Technology and Innovation PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menyampaikan Pertamina berhasil menurunkan jumlah karbon atau melakukan dekarbonisasi pada tahun 2020 sebesar 27 persen, hal ini sejalan dengan target perusahaan hingga 2030 sebesar 30 persen. Capaian tersebut melebihi 1 persen dari target yang direncanakan sebesar 26 persen pada 2020. Kedepannya Pertamina akan terus meningkatkan intensitas dekarbonisasi sesuai dengan target nasional.

General Manager PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Agus Amperianto menyampaikan bahwa PHM konsisten melakukan berbagai upaya pengurangan emisi di seluruh sektor kegiatan. Upaya-upaya tersebut diantaranya yaitu penggunaan turbin gas rendah emisi, optimasi perawatan fasilitas operasi, optimasi inspeksi bawah air, optimasi bahan bakar transportasi, minimalisasi penghentian operasi yang tidak terencana, optimasi kompresor, pengurangan gas suar bakar dengan menggunakan Gas Recovery Compressor, dan penggunaan sistem Vapour Recovery Unit (VRU). Dari program efisiensi emisi GRK ini, PHM berhasil menghemat anggaran hingga ratusan juta dolar. (Teks: MM, Infografis: CTA, Editor: KDW)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.