DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Akselerasi Pemanfaatan Kendaraan Listrik

26 Mei 2022 Berita

Jakarta, 25/05/2022. Transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia telah menargetkan percepatan pemanfaatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Per tahun 2021, berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, jumlah kendaraan listrik di Indonesia mencapai 14.400 unit, dimana 12.464 unit diantaranya merupakan motor listrik. Pada tahun 2025 mendatang, Indonesia menargetkan pemanfaatan motor listrik sebanyak 2,1 juta unit.

Pembahasan mengenai ekosistem KBLBB di Indonesia ini diangkat oleh Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha dalam panel diskusi bertajuk “Southeast Asia in spotlight: Supercharging green mobility in the region” yang digelar secara daring oleh Terrapinn. Dalam kesempatan tersebut, Satya menyampaikan bahwa saat ini pemerintah tengah berupaya membangun ekosistem baterai di tengah potensi sumber daya mineral nikel dan lithium yang melimpah.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan menarik investor. Sebagai permulaan, Hyundai Motor menjadi produsen mobil listrik pertama yang berinvestasi dan beroperasi di Indonesia. Ke depannya, LG Chem dan Contemporary Amperex Technology Ltd (CATL) diharapkan dapat turut bekerja sama, khususnya dalam hal pengembangan teknologi. Di samping itu, pemerintah juga terus berupaya menyusun regulasi dan membangun kerja sama dengan pihak swasta dan BUMN, termasuk diantaranya untuk pembangunan infrastruktur.

Skema finansial menjadi hal yang turut ditekankan. Menurut pria lulusan Cranfield University ini, masyarakat cenderung enggan beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik karena pertimbangan harga. Oleh karena itu, pemerintah tengah menggarap pemberian insentif, baik fiskal maupun non-fiskal. Harapannya, harga yang kompetitif dan pemberian subsidi pembelian kendaraan listrik dapat memudahkan pemerintah dalam menarik minat masyarakat untuk beralih.

Selain harga, investor juga dinilai masih kesulitan dalam mengidentifikasi kapasitas pasar, sehingga diperlukan proyeksi pasar yang tepat. Di samping itu, untuk menanggulangi terbatasnya  jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), pemerintah terus membangun infrastruktur tersebut khususnya di Pulau Jawa. “Dengan memperluas distribusi stasiun pengisian daya, menyusun regulasi pendukung, dan memperbaiki isu harga, diharapkan masyarakat mau beralih dari kendaraan konvensional, sehingga dapat mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak,” tutup Satya. (Teks: SL, Grafis: OT, Editor: DR)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.