DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Herman Darnel dalam Seminar Renewable Energy Towards Sustainability of Chains in the 14.0 Era

18 Juni 2022 Berita

Jakarta, 18/6/2022. Anggota DEN Herman Darnel Ibrahim menjadi narasumber dalam Seminar Nasional 4th Mercu Buana Conference on Industrial Engineering-MBCIE 2022 dengan tema Renewable Energy Towards Sustainability of Chains in the 14.0 Era yang diselenggarakan oleh Universitas Mercu Buana secara daring.

Anggota DEN, Herman Darnel Ibrahim mengatakan Perjanjian Paris menyepakati pembatasan kenaikan suhu global meningkat tidak lebih dari 2 derajat Celsius relatif terhadap pre industrial levels. Dalam skenario BaU NDC diproyeksikan puncak emisi GRK nasional di 2030, sektor FOLU telah mencapai carbon net sink dan sektor energi akan menjadi penyumbang emisi terbesar (58%) sebesar 1.669 juta ton CO2 dari total 2.869 juta ton CO2, dengan target penurunan 314 s.d. 446 juta ton CO2 (11% s.d. 17,2%). Penentuan target penurunan emisi GRK sektor energi akan sangat berpengaruh dalam transisi menuju NZE di 2060 atau lebih cepat.

HDI sapaan akrab Herman Darnel Ibrahim juga menjelaskan mengenai skenario umum transisi energi, antara lain: transisi dari penyediaan energi dari berbasis energy fosil menjadi berbasis Energi Terbarukan dan Energi Bersih (EB), Transisi penyediaan listrik dari yang lebih terpusat menjadi yang lebih terdistribusi (Distributed Generation) dan Transisi konsumsi Non Listrik (Fosil) di berbagai sektor menjadi konsumsi listrik (Listriknya nanti dari sumber ET). Selain itu, tantangan transisi energi ialah pengembangan teknologi kedepannya. Dalam penutupannya HDI menjelaskan mengenai faktor-faktor penentu keberhasilan transisi energi, antara lain: Teknologi yang dimiliki dan dikuasai, Kondisi social dan politik negara, Kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat, dan sebagainya.

Profesor Teknik Industri, UNS, Wahyudi Sutopo mengatakan berdasarkan data terdapat 417,8 GW potensi sumber energi terbarukan, tapi yang sudah dimanfaatkan baru 10,4 GW atau sebesar 2,5%. Beberapa dukungan yang harus disiapkan untuk mengakselerasi pemanfaatan EBT antara lain: dukungan penelitian dan pengembangan, dukungan insentif dan perbaikan regulasi. Wahyu juga menjelaskan bahwa era saat ini perlunya inovasi teknologi khususnya pada baterai dan kendaraan listrik. Selain itu, perlu energy storage technologies include batteries pada penggunaan off grid renewable energy sehingga dapat dipakai diberbagai aplikasi (baik untuk mobilty dan stationary storage application).

Lecturer Univ. Mercu Buana, Jacky Chin mengatakan berdasarkan data energy overview bahwa permintaan EBT pada tahun 2050 akan mencapai 275 MTOE sehingga pangsa EBT juga meningkat menjadi 29%. Peningkatan penyediaan EBT dipengaruhi oleh optimalisasi pemanfaatan solar cell, biomasa, panas bumi dan ait untuk pembangkit listrik. Selain itu, penggunaan cangkang sawit, sekam, padi, jerami dan wood pellet semakin intensif untuk memasok bahan bakar PLT Biomasa. Sedangkan produksi panas bumi relatif stabil karena telah mencapai potensi maksimal mulai tahun 2025. Jacky juga menjelaskan bahwa pada industry 4.0 diperlukan penerapan Cyber Physical Systems (CPS) yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas, fleksibilitas dan kelincahan secara keseluruhan terhadap perubahan yang mungkin terjadi dalam rantai pasok. Seminar dilanjutkan dengan sesi tanya oleh seluruh peserta dan narasumber. (Teks: AM, Grafis: OT, Editor: DE)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.