DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Sekjen DEN Dukung Komitmen Nasional Menuju EBT dan NZE

16 September 2022 Berita

Jakarta, 16/9/2022. Sekretaris Jenderal DEN Djoko Siswanto menjadi salah satu narasumber pada acara Indonesia Energy & Engineering Series Hybrid Seminar yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Pada kesempatan ini, Pria yang kerap disapa Djoksis ini menyampaikan transisi energi menuju energi baru terbarukan dan energi rendah karbon merupakan komitmen nasional sesuai PP Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional.

Dalam seminar tersebut, sambutan pembuka disampaikan oleh Mustiko Saleh selaku Ketua Umum Aspermigas (Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional). Sedangkan Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Basilio Dias Araujo sebagai keynote speaker.

Seminar yang bertajuk Indonesia's Big Step Towards Net Zero Oil and Gas Industry The Impact Of Emission Reduction and Carbon Tax Initiatives turut menghadirkan narasumber Peneliti Madya Badan Kebijakan Fiskal Hadi Setiawan, Vice President Investor Relations PT Pertamina Juferson Mangempis dan Vice President Wood Mackenzie Asia Pasifik Joshua Ngu.

Djoksis juga menegaskan Kebijakan Energi Nasional saat ini perlu dilakukan pembaharuan karena belum sesuai dengan aspek keenergian saat ini. "KEN yang sekarang belum mempertimbangkan pemanfaatan teknologi Carbon Capture, belum menetapkan sasaran dan kebijakan terkait Nationally Determined Contribution, tidak mencakup transisi energi, belum memuat target Net Zero Emission, dan target bauran energi terbarukan dalam energi primer tahun 2050 hanya 31 persen", jelasnya.

DEN telah menyusun kebijakan jangka menengah melalui Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) sebagai bentuk keseriusan mengimplementasikan Nationally Determined Contribution dan tengah menyesuaikan kembali sistem  perencanaan pembangunan nasional untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan 23% di 2025. 

Djoksis yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM ini menyatakan Indonesia telah mengesahkan Paris Agreement dalam UU Nomor 16 Tahun 2016 dan Indonesia telah menetapkan Nationally Determined Contribution untuk menurunkan Emisi GHG 29% (Unconditional) dan 41% (Conditional) pada tahun 2030.

Guna menciptakan ekosistem hulu minyak dan gas yang sejalan dengan Net Zero Emission di tahun 2060, Pemerintah telah menetapkan enam pilar, diantaranya kebijakan dan regulasi, pengelolaan energi, zero routine flaring, pengurangan emisi fugitive, reforestasi dan CCS/CCUS.

Industri minyak dan gas global juga secara bertahap telah beralih menjadi lebih hijau dengan mengoptimalkan operasional minyak dan gas, mengimplementasikan teknologi CCS/CCUS, menggunakan bahan bakar rendah karbon untuk operasional, serta beralih menjadi energy companies seperti pembangkit listrik tenaga surya dan angin, listrik retail, efisiensi dan elektrifikasi layanan. 

Lulusan Doktoral dari Institut Teknologi Bandung ini menjelaskan CCS/CCUS adalah teknologi rendah karbon yang dapat diandalkan di sektor minyak dan gas. Sebagaimana tercantum dalam IPCC Sixth Assessment Report, CCS/CCUS adalah faktor yang memungkinkan untuk melaksanakan komitmen Net Zero Emission dan memenuhi target bauran energi nasional.

Peneliti Madya Badan Kebijakan Fiskal Hadi Setiawan menyampaikan para pelaku bisnis minyak dan gas harus mulai mengembangkan berbagai teknologi CCS/CCUS dalam mendukung transisi energi. Perlunya kolaborasi Pemerintah dan swasta dalam mengakselerasi implementasi CCS/CCUS melalui penelitian atau studi kelayakan, mengupayakan kelayakan dan keekonomian proyek CCS/CCUS, serta joint investment proyek CCS/CCUS.

Vice President Investor Relations PT Pertamina Juferson Mangempis menyampaikan Pertamina mengimplementasikan teknologi CCS/CCUS melalui pemilihan lokasi yang potensial untuk injeksi CO2 dan mengembangkan teknologi yang dapat terintegrasi dengan kegiatan usaha yang telah berjalan. Pertamina juga meneliti teknologi CCS untuk menghilangkan kelebihan CO2 dan memanfaatkannya sebagai bahan baku produk lain yang memiliki nilai tambah secara ekonomi, seperti mineral carbonation dan industri methanol. 

Senada, Vice President Wood Mackenzie Asia Pasifik Joshua Ngu menyampaikan perusahaan minyak dan gas saat ini perlu mengembangkan berbagai strategi untuk mengintegrasikan bisnis minyak dan gas dengan CCS, di antaranya adalah mengembangkan CO2 Enhanced Oil Recovery (EOR), memperluas CCS value chain, mengeksplorasi lokasi yang tepat untuk injeksi CCS dan mengembangkan cost-effective formula untuk CCS teknologi.

Di akhir kegiatan, Executive Director Apermigas Moshe Rizal berharap Pemerintah perlu memberikan dukungan berupa regulasi, kemudahan perizinan dan insentif bagi pengembangan CCS/CCUS. Selain itu, diperlukan kerjasama yang strategis untuk menciptakan pasar dan akses bagi ekonomi hijau dan mendorong terciptanya proyek CCS/CCUS yang layak secara ekonomi. (Teks: MM, Infografis: OT, Editor: DR)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.