DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

DEN Dorong Akselerasi Pembangunan  Pembangkit Listrik Berbasis Sampah ( PLTSa)

23 November 2022 Berita

Melaksanakan amanah UU 30 Tahun 2007 tentang Energi pasal 12 ayat (2) huruf d, yang mengamanatkan DEN bertugas mengawasi pelaksanaan kebijakan di bidang energi yang bersifat lintas sektoral, anggota DEN dari Pemangku Kepentingan unsur lingkungan hidup Yusra Khan dan Agus Puji Prasetyono anggota DEN Pemangku Kepentingan unsur akademisi, Kepala Biro Fasilitasi Penanggulangan Krisis dan Pengawasan Kebijakan Energi beserta tim dari Setjen DEN melakukan kunjungan kerja ke kantor Walikota Medan sekaligus melakukan gelaran workshop membahas Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), Senin, 21/11/2022 di Medan.

Dalam Workshop tersebut Yusra Khan didapuk menjadi salah satu narasumber, dan hadir narasumber lainnya yaitu Direktorat Jenderal EBTKE yang diwakili Koordinator Investasi dan Kerjasama, Trois Dilisendi, Ketua Prodi Ilmu Lingkungan Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret, Profesor. Dr. Prabang Setyono, S,Si, M.Si; dan Chairman Hwa Sung Group, South Korea, Kim Byung Jo.

Acara workshop yang diselenggarakan secara luring dan juga daring itu, diawali dengan sambutan Agus Tripriyono, SE, Msi, Ak, CA selaku Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan , Aset dan Sumber Daya Alam Provinsi Sumatera Utara sebagai tuan rumah dan dihadiri juga oleh peserta dari Pemda Sumatera Utara, Dinas ESDM Sumatera Utara, dan Kementerian/Lembaga serta stakeholder yang terkait masalah lingkungan hidup. Agus dalam sambutannya, mengharapkan masukan-masukan bagaimana mengolah sampah yang baik dan memberikan kontribusi yang positif bagi pengolahan sampah di kota Medan dan sekitarnya dengan mengubah sampah menjadi energi listrik untuk kebutuhan masyarakatnya, ungkapnya.

 Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi juga sejalan dengan arah kebijakan  pengelolaan energi nasional  sebagaimana tercantum dalam PP nomor 79 Tahun 2014 tentang  Kebijakan Energi Nasional yaitu kebijakan utama pemanfaatan sumber daya energi nasional dan kebijakan pendukung lingkungan hidup dan keselamatan. Lebih lanjut, terdapat beberapa kegiatan RUEN pada Perpres nomor 22 Tahun 2017  tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN)  dan juga Perpres nomor 35 Tahun 2018 tentang percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah  menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.

Dalam presentasi yang disampaikan, Yusra Khan mengatakan bahwa Dewan Energi Nasional telah melaksanakan kegiatan pengawasan pelaksanaan Matrik RUEN terkait pembangunan PLTSa, khususnya untuk mendorong Pelaksanaan Perpres nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi energi Listrik berbasis Teknologi Ramah Lingkungan yaitu pertama,  mempercepat pembangunan PLTSa di Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surabaya dan Kota Makassar melalui pemanfaatan sampah yang menjadi urusan pemerintah, dalam hal ini KESDM pada periode 2016-2019. Kemudian yang kedua membangun PLTSa paling sedikit 10 MW per provinsi, periode 2026- 2050.
Lebih lanjut perlu mencari peluang  kota-kota yang ada di luar lingkup Perpres nomor  35 tahun 2018. Dan salah satu kota yang berpotensi untuk melakukan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi adalah Medan, yang merupakan kota terbesar ke tiga di Indonesia sehingga dapat menjadi trendsetter bagi kota-kota lainnya, ujar Yusra.

Dirjen EBTKE yang diwakili oleh Koordinator Investasi dan Kerjasama Trois Dilisendi menyampaikan tema  Perkembangan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah (PLTSa) di Indonesia, mengulas  bagaimana strategi Pemerintah dalam mengembangkan sampah kota sebagai sumber EBT dan bagaimana perkembangan PLTSa di Indonesia saat ini. 
Prabang Setyono dalam uraiannya dengan tema  teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik yang tepat guna dan berkelanjutan di Indonesia menjelaskan bagaimana karakteristik sampah kota di Indonesia untuk pemanfaatan sumber listrik, pilihan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik yang telah terbukti dapat dikelola secara berkelanjutan dan juga bagaimana pemilihan teknologi pengolahan sampah kota menjadi energi listrik yang sesuai  dengan kebutuhan  dan kemampuan daerah.

Tidak kalah rinci Kim Byung Jo selaku Chairman Hwa Sung Group pemateri terakhir menyampaikan  tema teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik di Korea Selatan (Technologies of Waste-to-Electricity in South Korea). Kim menjelaskan bagaimana kebijakan dan strategi Pemerintah Korea Selatan yaitu adanya larangan membawa limbah konstruksi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di wilayah metropolitan pada tahun 2025, larangan langsung menimbun sampah rumah tangga pada 2026 sehingga perlu strategi dalam memanfaatkan sampah menjadi energi listrik dengan teknologi Waste –to-Electricity. Teknologi ini mengubah sampah tidak dibakar namun dijadikan gas hidrogen dan baru  dilakukan oleh perusahaan mereka saja dengan siklus life sampai 30 tahun,  dan sedang di kembangkan di Korea serta merupakan teknologi ramah lingkungan. Instalasi versi ke 3 ini dapat dipindah-pindahkan (mobile) dan dapat digunakan di daerah pabrikan dan Industri ungkap Kim menutup presentasinya. 

Agus Puji dalam sesi diskusi menyampaikan pandangannya bahwa pihak Korea perlu menawarkan mekanisme kerjasama yang menarik kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, misalnya mengurangi tipping fee, dan lain sebagainya.

Salah seorang penanya  dari Pemda Sumatera Utara Akmal Saputra Nasution, mengatakan bahwa perlu sinergi dengan TPA Regional  Sumatera Utara dan mempertimbangkan lebih banyak kota lain termasuk Medan  masuk kedalam lingkup program pengolahan sampah sesuai Perpres nomor 35 Tahun 2018  sehingga provinsi lain juga bisa proaktif dalam pengolahan sampah dan no tiping fee terkait pemanfaatan sampah kota menjadi energi listrik.

Workshop ditutup setelah sesi diskusi berakhir dengan beberapa kesimpulan dan menindaklanjuti masukan yang disampaikan agar Pemda Sumatera Utara lebih proaktif karena sampah adalah urusan kabupaten dan kota, sehingga perlu mencari mekanisme baru bukan hanya  mengurangi 80% timbunan sampah kota yang 42% merupakan sampah organik dengan sistem angkut dan buang saja, namun perlu pengolahan sampah yang tepat guna agar  program akselerasi pembangunan pembangkit listrik  berbasis sampah (PLTSa) segera terlaksana. (Teks: DR, Infografis: OT, Editor: YS)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.