DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Iran akan mempertahankan pangsanya di pasar minyak India

19 Juli 2011 Berita

Iran akan terus memasok minyak ke India, meskipun belum menerima pembayaran selama berbulan-bulan, ini dilakukan dalam upaya mengimbangi kompetisi dari Arab Saudi.

India berutang ke Iran antara  $ AS 2 – 4 Milyar atas minyak yang telah diimpornya dari Iran, sejak bank India memblokir transfer uang ke Republik Islam Iran di bawah tekanan dari AS, yang percaya Iran mencoba membuat senjata nuklir.

Pembeli dari India membayar hutang tersebut melalui suatu rekening bersama, tetapi Iran tidak dapat mengakses pembayaran karena Bank Sentral India mengakhiri mekanisme kliring regional pada bulan Desember 2010. "Pembeli membayar ke rekening bersama, tapi rekening ini dikendalikan oleh pemerintah India sehingga dana tidak bisa ditransfer," demikian menurut Mohammad Ali al Khatibi Gubernur OPEC yang berasal dari Iran. Namun, tidak ada rencana untuk memangkas pasokan minyak ke India.

"Ekspor minyak ke India, salah satu pelanggan tradisional dan jangka panjang kami, akan terus berlanjut," kata Mohammad Aliabadi, menteri perminyakan Iran. "India akan menyelesaikan masalah tentang pembayaran dalam satu atau dua bulan ke depan".

Iran melanjutkan ekspor tanpa pembayaran untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Khatibi menuduh eksportir saingannya dari Arab Saudi berusaha meraih lebih besar pangsa pasar minyak global dengan memangkas harga dan meningkatkan output.
Iran memasok minyak ke India sebesar 400,000 b/d, sekitar 12-14% pangsa impor total India. Namun Saudi Arabia tetaplah penyedia minyak yang paling besar di India, dimana pemilik-pemilik kilang India membeli tambahaan 3 juta barel minyak dari Saudi Arabia bulan lalu.
Arab Saudi dan Iran berseteru di pertemuan OPEC, 8 Juni 2011 di Wina. Riyadh mengusulkan peningkatan target output, sementara Teheran menentang peningkatan produksi.

Menteri Arab Saudi Minyak dan Sumber Daya Mineral Ali al-Naimi menyebut penentang peningkatan output sebagai keras kepala, sementara Khatibi mengatakan Riyadh telah terlalu terpengaruh oleh AS yang menginginkan harga minyak yang lebih murah.

(Sumber: Oil & Gas Journal – SM)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.