DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Wrap up Meeting dengan Delegasi Pemerintah Swedia

26 September 2011 Berita

Pada tanggal 23 September 2011  dilaksanakan  wrap up meeting untuk menindaklanjuti acara workshop tentang pengembangan energi baru dan terbarukan yang telah sukses diselenggarakan di Yogyakarta pada 21 September 2011. Wrap up meeting dihadiri antara lain perwakilan pemerintah Swedia yakni; Duta Besar Swedia Mrs. Ewa Polano,  Mr. Erick Milfors (Swedish Trade Council), Ms. Annika Siwertz (Counsellor for Development Cooperation), Mr. Martin Dahl (Borasenergimiljo),  Mr. Andre Lindskog, Mr. Peter Kovac and Mrs. Jessica Magnusson (SP Technical Research Institute). Dan perwakilan pemerintah Indonesia yakni; Bp. Widjajono Partowidagdo dan Bp. Tumiran sebagai anggota DEN, Bp. Idwan Suhardi dari Kemenristek,  Bp. Harris dari Direktorat Jenderal EBTKE,  Bp. Antonaria dari BAPPENAS, Bp. Nur Hidayat dari Direktorat Jenderal Kelistrikan, Ibu Febriana dari Direktorat Jenderal Migas, Bp. Hartono dari Balitbang KESDM.

Dalam isu energi, disadari bahwa tidak semua harus diinisiasi dan dibebankan kepada pemerintah pusat. Proyek ini membuktikan bahwa pendekatan bottom-up adalah kunci keberlanjutan. Namun demikian, pemerintah pusat dapat membantu dalam mengidentifikasi, kota-kota mana saja yang berpotensi untuk selanjutnya mengadopsi kesuksesan Yogyakarta dalam mensortir, mengelola dan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi

Swedia adalah negara pioner dalam hal pengelolaan sampah kota. Delegasi Swedia memaparkan kesuksesan kota Boras dalam mengelola energi, pengelolaan sampah mengikuti hirarki sebagai berikut: meminimalisir, menggunakan ulang (reuse), mengolah (recycle),  penghasilan energi (energy recovery), dan pengurukan  (landfilling). Pengelolaan sampah di kota Boras didorong oleh kebijakan pelarangan pengurukan (landfill ban). Dimana saat ini hanya 1,5 % sampah yang akhirnya masuk ke landfill. Delegasi Swedia juga memaparkan bahwa dengan emisi methane yang dihasilkan oleh landfill, maka  25% emisi karbon dunia berasal dari landfill.

Sebelum implementasi pengelolaan biomassa pasar buah dan sayur Gamping, pasar ini menghasilkan 2 truk sampah buah per hari yang masuk ke landfill. Dan saat ini pasar ini hanya menghasilkan 1 truk per minggu sampah yang masuk ke landfill. Kerjasama ini diinisiasi dengan kerjasama antar universitas, untuk membuat suatu instalasi yang berkelanjutan Dalam proyek ini ditentukan Siapa yang bertanggungjawab memelihara (servis)  instalasi, siapa yang bertanggungjawab untuk operasional sehari-hari instalasi.

Dalam membangun kesuksesan pilot project ini, pihak universitas harus mengidentifikasi jenis sampah yang cocok untuk menghasilkan biogas, dibutuhkan 20 master thesis dalam identifikasi jenis sampah (sampah buah di Indonesia berbeda dengan sampah di Swedia), hingga desain mesin.

Pilot project konversi biomassa di pasar buah & sayur Gamping Yogya telah menyajikan “lesson learned” ; bagaimana mendidik, bekerjasama, bagaimana melakukan capacity building. Hanya dibutuhkan waktu beberapa bulan dalam membangun permesinan pengolah sampah, namun diperlukan waktu setidaknya 3 tahun dalam mendidik masyarakat agar mau berpartisipasi dan menyortir sampahnya.

Dari pilot project ini juga diidentifikasi tantangan dan hambatan yang dijumpai, salah satunya adalah perlunya koordinasi antara kementerian pendidikan, kementerian dalam negeri, serta kementerian keuangan, dalam mengatasi inkonsistensi regulasi, juga dalam membuat sistem dan standardisasi,  aturan keselamatan (safety), testing dan sertifikasi produk sebelum mencontohkan ke kota-kota lainnya atau sebelum membangun skala pengolahan yang lebih besar. Pilot project di Yogyakarta ini dalam waktu dekat akan diikuti oleh proyek pengelolaan sampah di kota Palu, Cimahi dan Balikpapan.

Delegasi Swedia juga memaparkan bagaimana SP sebagai badan riset milik negara telah dengan sukses memainkan peran menjembatani kerjasama yang erat antara pihak industri dengan pihak universitas.  SP adalah badat riset dengan 1100 karyawan dimana 250 diantaranya adalah bergelar Phd. SP terdiri dari 8 departemen riset dan membahwahi  anak-anak perusahaan. SP bekerja dari riset hingga mengirim produk ke pasar.

Perwakilan kemenristek menyampaikan perhargaannya atas kerjasama yang baik yang diinisiasi oleh UGM, dan memaparkan ketertarikannya untuk mempelajari, bagaimana agar pembiayaan riset datang dari pihak industri, sebagaimana yang terjadi di Swedia.

Dalam pertemuan kali ini perwakilan dari DJLPE menyatakan dukungannya terhadap program ini, sebagaimana target DJLPE untuk 10.000 MW tahap 2, yakni 40% listrik dari energi baru dan terbarukan, utamanya geothermal dan hydro. Perwakilan dari Direktorat Jenderal EBTKE menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun FiT untuk biogas dan surya.  Pihak Swedia menawarkan kerjasama dengan Direktorat Jenderal EBTKE dalam menyusun FiT ini. Mr. Andre Lindskog dari SP Technical Research Institute menyarankan pihak EBTKE membuka website mereka,  http://nordpoolspot.com dalam studi FiT dan green certificate.

Dalam pertemuan ini duta besar Swedia Mrs. Eva Polano mengundang para anggota DEN dalam bulan ini untuk mengunjungi Swedia dan bertemu dengan National Energy Agency Swedia, kemudian khususnya mengunjungi kota Boras untuk melihat bagaimana kesuksesan pengelolaan sampah menjadi energi. Bp. Widjajono Partowidagdo yang mewakili anggota Dewan Energi Nasional menyarankan agar pihak Swedia juga menggandeng universitas lain seperti ITB dalam mengembangkan pilot project di provinsi lain. Bp. Tumiran mengusulkan agar dalam pertemuan selanjutnya dengan pihak Swedia, unsur industri juga turut diundang.

(Siti Mariani)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2022 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.