DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Kenaikan Harga Minyak; Ulah Spekulan?

16 Maret 2011 Berita

Harga minyak terus merangkak naik sejak kerusuhan di Mesir dan berlanjut hingga hari ini. Harga minyak mentah jenis Brent per tanggal 15 Maret 2011 tercatat sebesar $ 108.52. Dari sisi pasokan, terganggunya pasokan dari Libya yang hanya menyumbang 2% pasokan minyak mentah dunia, dan adanya tambahan pasokan dari Arab Saudi sebagaimana dilaporkan untuk menggantikan pasokan minyak Libya, seharusnya tidak mendorong naiknya harga minyak secara signifikan. Beberapa pihak meyakini bahwa kenaikan ini diakibatkan ulah spekulan.

Teori ini didukung oleh banyak fakta, diantaranya fakta bahwa pada tahun 2008, kenaikan harga minyak terjadi begitu tajam dan cepat, di bulan Juli 2008 harga crude WTI menembus rekor  US$ 145 dan diikuti pembalikan, penurunan harga yang tajam pada  23 Desember 2008, harga crude WTI turun menembus US$30.28 per barrel.  Perubahan yang cepat dan tajam ini, menurut  Phil Silverman, dari Kingview Management New York, “Jelas bukan dilakukan oleh end-user dan bukan juga hedgers yang melakukan itu."

Pembelian kontrak-kontrak futures minyak mentah (paper barrel) oleh spekulator, mengakibatkan tambahan permintaan akan minyak, mendorong naiknya harga minyak untuk pengiriman selanjutnya. Permintaan barel minyak dari paper barrel ini sama nyatanya dengan permintaan barel fisik minyak dari perusahaan kilang atau end-user lainnya.

Dengan membeli sejumlah besar kontrak berjangka, dapat menciptakan price quotation, mendorong harga ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian spekulator telah memberikan insentif keuangan bagi perusahaan minyak untuk membeli minyak dan ditempatkan dalam penyimpanan.

Akibatnya, selama dua tahun terakhir stok minyak mentah terus meningkat. Stok minyak mentah AS sekarang jauh lebih tinggi dari dari delapan tahun sebelumnya. Masuknya spekulan ke kontrak futures telah menyebabkan stok minyak mentah yang tinggi dan diikuti dengan harga minyak mentah yang tinggi.

"Spekulator memberi pengaruh yang besar pada pasar, spekulan menaruh gagasan akan terjadi kelangkaan pasokan di kemudian hari, sedangkan permintaan musiman terus tumbuh. "  kata Darin Newsom, analis komoditas dari DTN Omaha, Nebraska.

 

Bagaimana sebenarnya spekulan menentukan harga?

Sebagian besar minyak mentah diperdagangkan dalam bentuk kontrak-kontrak futures jangka panjang atau paper barrel” (1 kontrak = 1000 barrel), dan harga dalam kontrak tersebut ditetapkan menggunakan sistem "formula pricing". Dalam sistem ini, harga minyak mentah ditentukan dengan menambahkan premi ke, atau mengurangkan diskon dari, suatu benchmark crude, misal: West Texas Intermediate (WTI), North Sea Brent, dan Dubai-Oman.

Peran utama dipegang oleh pasar minyak internasional di London dan New York. Nymex di New York dan ICE Futures di London yang mengontrol patokan harga minyak dunia pada gilirannya mengatur sebagian besar kargo minyak yang diperdagangkan secara bebas. Spekulan biasanya memakai benchmark harga dua jenis minyak mentah yakni  WTI dan North Sea Brent.

Dalam suatu tulisan ilmiahnya,  Bassam Fattouh dari Oxford Institute for Energy Studies menyatakan bahwa, saat ini pasar futures telah tumbuh menjadi  pusat rezim harga minyak. Beberapa negara penghasil minyak utama seperti Arab Saudi, Kuwait dan Iran tidak lagi mengacu pada benchmark harga WTI atau Brent terbaru sebagai dasar penetapan harga ekspor minyak mentah ke Eropa, namun mengacu pada IPE Brent Weighted Average (BWAVE). BWAVE adalah rata-rata  price quotations semua futures selama suatu hari trading. Perhitungan rata-rata diambil dari volume transaksi hari itu. Dengan formula ini, maka akan mengubah pasar future dari pasar kontrak finansial menjadi pusat sistem penentuan harga minyak. Futures bukanlah taruhan atas arah harga minyak yang ditentukan oleh suatu proses independen. Futures menentukan harga fisik minyak yang diperdagangkan pada hari ini, sehingga harga futures (kurang atau lebihnya) merupakan cerminan dari harga minyak pada saat terjadinya perdagangan.

 

Bagaimana menghentikannya?

Ulah spekulan yang terkesan liar selama dekade terakhir ini, ditengarai akibat dari celah kebijakan yang disebut “enron loophole” dimana perdagangan kontrak future energi (termasuk perdagangan elektronik) dikecualikan dari pengaturan pemerintah dan pengawasan oleh U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC).  Kemampuan CFTC untuk mendeteksi manipulasi harga menurun akibat gap informasi, akibat dikecualikannya trader di pasar ICE Futures London dan OTC electronic exchange dari kewajiban untuk menyerahkan laporan harian atas perdagangan komoditas energi ke CFTC.

 

Proses perdagangan yang sangat tidak transparan, menyebabkan hanya sedikit bank besar seperti Goldman Sachs atau Morgan Stanley yang membeli dan yang menjual kontrak futures minyak berjangka yang akhirnya memberikan peluang untuk menentukan harga fisik minyak.

 

Dengan kejadian yang menimpa pasar minyak dunia dan berdampak terhadap perekonomian dunia, maka usulan untuk membuat peraturan yang lebih ketat atas spekulan semakin menguat. Salah satu usulan adalah untuk memberi kewenangan bagi CFTC memberlakukan "position limit," yang prinsipnya untuk membatasi ukuran taruhan yang bisa ditetapkan oleh spekulan. Saran kebijakan ini, meskipun didukung oleh Ketua CFTC dan banyak legislator, ditentang oleh bank-bank besar di Wall Street seperti Goldman Sachs atau Morgan Stanley.

Ulah spekulasi harga minyak di AS telah diikuti spekulasi harga gas di AS. Sekarang ini, harga gas domestik di Amerika ikut terkerek naik, padahal sebelumnya harga gas sempat turun dan tidak lagi mengikuti harga minyak, akibat ditemukannya dan diproduksinya unconventional shale gas secara besar-besaran. Hal ini menimbulkan keprihatinan bagi pemerintah AS, yang mengkhawatirkan harga gas yang ikut terkerek akan menghambat pemulihan ekonominya. Saat ini usulan-usulan kebijakan pengkajian ulang “enron loophole” dan kebijakan penerapan position limit  untuk meredam ulah spekulan minyak, masih dalam pembahasan legislator AS.

Volatilitas harga minyak tidak saja merugikan konsumen negara industri maju, juga pemerintah negara berkembang yang masih sangat mengandalkan minyak, namun juga merugikan produsen karena tidak lagi dapat membuat basis asumsi biaya produksi.

Kemampuan para spekulan dalam menentukan harga pada futures trading di pasar minyak dunia tentu sangat merugikan negara-negara eksportir minyak utama dunia (terutama OPEC) yang sering mendapatkan tekanan untuk menambah pasokan guna meredam gejolak harga, yang kemudian berpeluang terjadinya penurunan harga minyak secara signifikan seperti pada tahun 2008.

(SM, diambil dari berbagai sumber)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2020 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.