DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

BBM Bersubsidi Saat Ini Lebih Banyak Dinikmati Masyarakat Menengah Atas

21 Desember 2010 Berita

JAKARTA. Kebijakan pengaturan BBM bersubsidi dilakukan selain sebagai salah satu cara untuk menekan konsumsi BBM yang terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga membebani keuangan negara juga agar tidak memberatkan masyarakat untuk membeli bahan bakar. Subsidi idealnya dinikmati hanya untuk golongan masyarakat menengah kebawah namun pada kenyataanya justru yang terjadi adalah sebaliknya.

BBM Bersubsidi saat ini sekitar 77% justru di 25% masyarakat berpendapatan  menengah keatas dan hanya 25% dinikmati 15% masyarakat berpenghasilan menengah kebawah. Tujuan pengaturan ulang bukan hanya terkait dengan masalah anggaran namun lebih kepada rasa keadilan dan tepat sasaran.

Melihat fenomena demikian, Pemerintah berencana untuk melakukan pengaturan ulang distribusi BBM Bersubsidi agar lebih tepat sasaran dengan mengalihkannya dari subsidi harga ke subsidi golongan. ” Kalau subsidi pada harga, kasat matanya siapapun bisa beli, tapi kalau subsidi pada golongan maka hanya golongan tertentu yang dapat membeli BBM Bersubsidi”, demikian diutarakan Menteri ESDM sat melakukan kunjungan ke salah satu media cetak nasional, Kamis (16/12/2010) malam.

Dalam kunjungan yang dimaksudkan untuk mendapatkan masukkan dari kalangan media terkait kebijakan pengaturan ulang BBM Bersubsidi tersebut, Menteri menambahkan, ”kita harus melakukan sesuatu, berkenaan dengan kecenderungan eksesifnya volume BBM Bersubsidi yang menjadi sesuatu yang sudah diprihatinkan masyarakat dalam ukuran pendapat anggota DPR setiap kali Pemerintah bermitra”.

Pada tahun 2010, realisasi konsumsi BBM diperkirakan mencapai 38,38 juta KL atau meningkat 5% dari kuota 2010 yaitu 36,5 juta KL. Oleh karena itu, pelaksanaan pengaturan BBM bersubsidi perlu dilakukan agar kuota 2011 untuk BBM bersubsidi sebesar 38,59 juta KL tidak mengalami kenaikan pada realisasinya.

Menteri ESDM menyatakan, sektor transportasi khususnya transportasi darat merupakan penyerap subsidi terbanyak dengan bahan bakar jenis premium sebagai bahan bakarnya. Konsumsi premium pada sektor transportasi (darat) didominasi oleh mobil pribadi sebesar 53%  dari total konsumsi premium untuk transportasi darat. Dari sisi kewilayahan, Jawa-Bali mengkonsumsi premium terbanyak dimana sebesar 30%nya dikonsumsi di Jabodetabek.

Berdasarkan data tersebut maka Pemerintah dengan persetujuan DPR akan melakukan pengaturan ulang BBM Bersubsidi pada kendaraan roda empat secara bertahap di mulai dengan Jabodetabek dengan mempertimbangkan kesiapan Pertamina dalam implentasinya. Karna filosofinya rakyat berhak mendapatkan bahan bakar (energi) terlepas mampu atau tidak mampu maka ketersediaan BBM Bersubsidi maupun non subsidi harus tersedia di setiap SPBU-SPBU. "Kalau dia tidak bisa membeli yang bersubsidi maka kita harus menyediakan yang tidak bersubsidi. karena itulah maka menjadi penting kalau begitu SPBU yang siap seperti apa  atau tidak siap seperti apa. SPBU Yang disebut siap itu kalau dia terdiri dari solar, premium dan satu dispenser untuk pertamax begitu pula dengan depotnya ", ujar Menteri. (SF)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.