DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Cellulosic Ethanol; Generasi Bioethanol Terbaru

12 April 2011 Berita

Untuk mengurangi ketergantungan impor minyak fosil, beberapa tahun lalu Amerika Serikat (AS) menggalakkan biofuel, dan saat ini telah memproduksi bioethanol dari jagung, yang disebut sebagai corn ethanol. Namun demikian, para periset menengarai bahwa corn ethanol  menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lebih banyak dari bensin fosil yang digantikannya, akibat dari pengalihan peruntukan lahan.

Badan Lingkungan Amerika, atau Environmental Protection Agency (EPA) baru-baru ini mengajukan revisi atas National Renewable Fuel Standard,  dimana EPA mengusulkan agar beralih  ke bahan bakar ethanol yang berbasis serat  atau cellulosic ethanol, sebagai generasi kedua corn ethanol.

Cellulosic ethanol dapat diproduksi dari massa tanam-tanaman yang tumbuh di darat. Tidak perlu mendedikasikan lahan untuk meningkatkan produksi jagung. Proses memecah selulosa tanaman kembali menjadi gula, kemudian memfermentasikan baik gula alami (dari buah jagung) dan gula yang berasal dari "pemecahan" serat atau selulosa, menjadi ethanol. Jadi  bisa didapatkan lebih banyak ethanol per tanaman, dan konsekuensinya, memerlukan lebih sedikit tanaman untuk membuat jumlah ethanol yang sama.

Proses produksi cellulosic ethanol ini disebut sebagai proses carbon-negatif karena  ramah lingkungan dan menghasilkan hampir nol polusi.  Produksi cellulosic ethanol menghasilkan 11 unit energi untuk setiap 1 unit energi yang digunakan untuk menumbuhkan biomassa dan kemudian mengubahnya menjadi ethanol (dengan catatan jenis tanamannya tepat). Sebagai perbandingan, corn ethanol  pada hasil terbaiknya  menghasilkan 1,3 unit energi untuk setiap 1 unit energi yang digunakan dalam produksinya.

Alasan lain mengapa proses ini disebut carbon-negatif  dan menghasilkan hampir nol polusi, ialah karena menghasilkan "energy gain" yang besar, dan bahwa proses itu memproduksi ethanol dengan cara yang berbeda, yakni memanfaatkan hampir seluruh massa tanaman dan membutuhkan input energi yang sangat kecil. Ini adalah proses produksi ethanol yang sederhana, bertekanan rendah, bertemperatur rendah, dimediasi -mikroorganisme nonkritik, menggunakan mikroorganisme yang berbeda-beda di setiap langkah prosesnya. Alam telah menghasilkan mikroorganisme yang hemat-energi dan mampu mendayagunakan berbagai bentuk selulosa secara efisien. Ethanol yang dihasilkan juga lebih murni - terbukti - dengan langkah-langkah  proses yang sederhana dan murah.

Dua jenis tanaman digunakan dalam proses produksi ethanol yang dimediasi-mikroorganisme yang  akan memberikan produksi ethanol yang maksimum per hektar:  Salah satunya adalah tebu/miscanthus cross, dikembangkan oleh Texas A & M University, dengan estimasi yield sebanyak 10.000 galon ethanol per hektar. Tanaman lainnya adalah maralfalfa, tanaman yang umum tumbuh di Columbia untuk pakan ternak, yang membutuhkan air tetapi budidayanya mudah bahkan tidak memerlukan pemeliharaan. Tanaman ini, seperti yang tumbuh di Columbia, diestimasi menghasilkan sekitar 19.000 galon ethanol per hektar. Maralfalfa dapat tumbuh di bagian selatan AS, yield untuk penanaman di belahan dunia lain harus dihitung ulang. Tanaman high-yield lain yang sesuai ditumbuhkan di USA adalah berbagai jenis tanaman forage sorgum.

Proses produksi ethanol ini juga dapat menggunakan berbagai bentuk selulosa atau campurannya: segala sesuatu dari tanaman yang ditanam khusus untuk diambil serat atau sellulosanya seperti  tebu, jagung, rumput gajah atau bahkan sisa batang tebu dan batang jagung yang tertinggal di ladang, dst.

Dengan menggunakan proses produksi ethanol yang  dimediasi-mikroorganisme,  kebutuhan biomassa berserat untuk mensubstitusi semua minyak impor USA dapat ditanam dalam 10 persen areal pertanian AS saat ini. Sebagai perbandingan, corn ethanol akan membutuhkan areal pertanian lebih dari seluruh areal pertanian AS saat ini, untuk mensubstitusi semua minyak impornya.

Para pengambil kebijakan AS mengusulkan bahwa pada tahun 2022, bauran energi AS meliputi  16 milyar galon cellulosic biofuel, 15 milyar galon biofuel  konvensional,  4 milyar galon “advanced biofuel” dan setidaknya satu milyar galon biodiesel yang terbuat dari biomassa.

Bagaimana dengan Indonesia?. Beberapa investor luar negeri telah berkomunikasi langsung ke pemerintah-pemerintah daerah untuk berinvestasi di lahan-lahan kosong bagi  penanaman rumput gajah sebagai bahan baku cellulosic ethanol. Dan investor ini akan mengolah biomassa berserat  ini ke luar daerah, bahkan keluar negeri, karena  enzyme pengolahnya masih merupakan rahasia dagang. Saat ini riset tentang enzyme pengolah biomassa berserat menjadi cellulosic ethanol ini belum ditemukan oleh ilmuwan Indonesia. (SM, dari berbagai sumber)

Bagikan berita ini


© 2016 - 2020 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.