DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Mitigasi Potensi Gangguan Impor Energi, Saleh Abdurrahman: Krisis Timur Tengah Tidak Boleh Diabaikan

06 Agustus 2019 Berita

“Krisis timur tengah tidak boleh diabaikan. In case eskalasi Selat Hormuz memanas, ini akan berdampak besar terhadap ketahanan energi kita, khususnya minyak bumi,” ujar Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Saleh Abdurrahman.

Hal itu disampaikan Saleh saat memimpin rapat Focus Group Disucussion (FGD) Mitigasi Potensi Gangguan Impor Energi Akibat Eskalasi Konflik di Selat Hormuz di Gedung Widjajono Partowidagdo, Jakarta (6/8).

Kepala Biro Fasilitasi Penanggulangan Krisis dan Pengawasan Energi  Ediar Usman menyampaikan identifikasi dan pemantauan krisis energi diatur dalam Peraturan Presiden No 41 tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan dan Penanggulangan Kondisi Krisis dan/atau Darurat Energi.

Pertemuan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk kesiapsiagaan semua pihak terkait antisipasi dan mitigasi potensi gangguan energi dengan eskalasi ketegangan di kawasan tersebut.

Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Achmad Rizal Purnama menjelaskan  bahwa tidak ada untungnya terjadi eskalasi yang berujung dengan perang. “Stabilitas kawasan adalah kepentingan nasional Indonesia,” pungkasnya.

Untuk mengurangi ketergantungan impor energi, Saleh menyarankan agar mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT). “Selain itu, pembangunan Jargas (Jaringan Gas Kota) di Indonesia,” tutupnya.

Rapat dihadiri oleh Kementerian ESDM, Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Badan Intelejen Negara (BIN), Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dan Pertamina. Teks: TR/Foto: OT.

Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.