DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Porsi biofuel hingga 27% bahan bakar transportasi dunia pada tahun 2050

28 April 2011 Berita

Sebuah laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) April 2011 mengatakan bahwa penggunaan biofuel yang meluas dapat memainkan peran penting dalam pengurangan emisi CO2 di sektor transportasi dan meningkatkan ketahanan energi, ketika diproduksi secara berkelanjutan.

 

Dengan pesatnya pertumbuhan sektor transportasi, dan naiknya permintaan akan bahan bakar transportasi secara global, laporan menggarisbawahi bagaimana konsumsi biofuel global dapat meningkat secara berkelanjutan - di mana produksi biofuel bermanfaat bagi lingkungan  secara signifikan dan tidak membahayakan ketahanan pangan. Diperkirakan produksi biofuel akan naik dari 55 juta ton setara minyak Mtoe (2 %) pada saat ini menjadi 750 Mtoe (27%) pada tahun 2050. “Dikatakan bahwa efisiensi kendaraan akan menjadi cara yang paling murah dan penting untuk mengurangi emisi transportasi namun, biofuels masih akan diperlukan untuk menyediakan alternatif bahan bakar karbon-rendah untuk pesawat, kapal laut (marine vessel) dan moda transportasi  berat lainnya, dan akan menyediakan seperlima penurunan emisi (2,1 gigatonnes CO2) di sektor transportasi.


IEA mempersiapkan Roadmap Teknologi Biofuels for Transport dengan konsultasi dengan perwakilan-perwakilan pemerintah, akademisi, industri, dan organisasi-organisasi nonpemerintah. Laporan ini merupakan laporan terbaru dalam seri technology roadmaps IEA, yang bertujuan untuk memandu pemerintah dan industri dalam mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai potensi penggunaan serangkaian teknologi energi bersih.


Diperlukan Teknologi-teknologi yang Efisien

Biofuel dapat menyediakan bahan bakar transportasi dengan emisi seluruh rangkaian CO2 yang jauh lebih rendah daripada bensin atau solar konvensional ketika dibandingkan dari "siklus hidup" produksinya - yaitu, dari ladang hingga ke kendaraan. Target ini dengan catatan untuk menghindari perubahan pemanfaatan lahan baik langsung ataupun tidak langsung, seperti konversi hutan untuk menumbuhkan bahan baku biofuel, ini melepaskan CO2 dalam jumlah besar dan dapat menganulir (offset) potensi reduksi CO2 dari penggunaan biofuel.

Teknologi canggih biofuel yang saat ini pada tahap demonstrasi (terutama dihasilkan dari lignoselulosa seperti kayu dan jerami), perlu diberdayakan dalam skala komersial di sepuluh tahun ke depan dan akan menyediakan porsi utama biofuel pada tahun 2050.

Investasi dalam pembangunan unit-unit produksi skala komersial akan menjadi kunci untuk memungkinkan advanced biofuels untuk mencapai full market maturity, selanjutnya disampaikan bahwa. "Dan Pemerintah perlu menyediakan kerangka kebijakan yang stabil dan jangka panjang bagi biofuel, yang memungkinkan investasi berkelanjutan dalam ekspansi biofuel.

Kuncinya adalah Keberlanjutan

"Dengan pertumbuhan penduduk dunia lebih dari 30% yakni menjadi 9 miliar orang pada tahun 2050, dan permintaan pangan meningkat sekitar 70% (Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa), kompetisi produksi biofuel dengan makanan, pakan ternak, serta juga produksi serat perlu ditangani dengan hati-hati untuk menghindari dampak negatif dari ekspansi biofuel terhadap ketahanan pangan.


Terdapat potensi yang besar untuk menggunakan sumber-sumber bahan baku biofuel yang beresiko rendah, yang memerlukan lahan terbatas, tidak bersaing dengan produksi pangan, untuk menyediakan bahan baku bagi industri biofuel yang terus berekspansi. Sertifikasi keberlanjutan biofuel, dengan kriteria keberlanjutan yang disepakati secara internasional, akan menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa produksi dan penggunaan biofuel memberi dampak lingkungan, sosial dan ekonomi yang positif.

Sekitar 3 miliar ton biomassa per tahun akan dibutuhkan pada tahun 2050 untuk memproduksi jumlah biofuel yang di-visi-kan dalam IEA roadmap. Laporan ini menekankan bahwa pemerintah harus mengadopsi mandatori standar-standar keberlanjutan untuk biofuel, dan memastikan standar tersebut selaras dengan standar internasional, untuk menghindari bentuk rintangan perdagangan. Suatu strategi manajemen pemanfaatan lahan untuk semua lahan pertanian dan kehutanan, akan menjadi satu-satunya cara untuk menghindari perubahan pemanfaatan lahan dengan dampak-dampak negatif terhadap lingkungan dan emisi CO2, dan untuk mendukung kebutuhan sektor-sektor lain.

Kerjasama Internasional adalah vital

Laporan ini menekankan bahwa pengurangan tarif dan hambatan perdagangan lainnya akan sangat penting untuk mengekspansi perdagangan biomassa dan biofuel untuk mencapai level campuran yang disyaratkan untuk memenuhi permintaan di berbagai wilayah dunia. Laporan tersebut menekankan bahwa untuk memastikan agar negara-negara berkembang dapat mengadopsi produksi biofuel yang berkelanjutan, akan diperlukan kerjasama internasional dalam bidang capacity building dan transfer teknologi.

 (Sumber: Press Release IEA)-SM

Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.