DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Mengenal Carbon Science

03 Mei 2011 Berita
Carbon Science adalah merek dagang, teknologi yang mengkonversikan gas alam menjadi bahan bakar cair. Teknologi ini menggunakan katalis kimia (yang dipatenkan) yang akan berinteraksi dengan methana dan CO2, untuk menghasilkan bensin cair.  Berdasarkan perhitungan, teknologi ini dapat memproduksi bahan bakar cair yang harganya bersaing dengan bensin konvensional jika harga minyak mentah sama dengan atau di atas $80 per barel. Bahan bakar cair yang dihasilkan dapat langsung dipakai pada mesin mobil yang umum ada saat ini. Dengan teknologi ini, diperhitungkan 1 Tcf gas alam dapat menghasilkan 5,5 miliar galon bensin.
Teknologi mengubah gas menjadi bahan bakar cair yang ada saat ini berdasarkan reaksi kimia Fischer-Tropsch, yang dapat mengkonversi campuran gas hidrogen (H2) dan karbon monoksida (CO) menjadi bahan bakar cair. Namun, H2 dan CO secara alami tidak ada dan harus diproduksi secara sintetis. Ada sejumlah cara untuk membuat gas sintetis, atau syngas, namun pendekatan yang paling menjanjikan adalah reformasi gas alam, terutama metana (CH4).
Ada 4 cara untuk mengubah methana menjadi syngas:
·         Steam reforming – intensif energi, mengkonsumsi banyak air 
·         Oksidasi parsial– mengkonsumsi oksigen murni, mahal dan berpotensi bahaya
·         Autothermal reforming – oksidasi parsial dengan bantuan Uap air
·         Dry reforming – mengkonsumsi CO2, tetapi memerlukan katalis yang dapat memproduksi bahan bakar cair dalam skala industri.
Teknologi ini penting karena untuk mengganti infrastruktur mobil yang sudah ada akan lebih sulit daripada menghasilkan bahan bakar yang sama (bensin) yang kita gunakan pada hari ini.
Oleh karena ladang gas alam umumnya mengandung baik CO2 maupun methana, teknologi carbon science dapat diaplikasikan langsung di lapangan gas untuk menghasilkan bahan bakar cair dalam jumlah besar yang dapat langsung digunakan atau ekspor.
Di mana ada sumber gas CO2 dan gas methana alami seperti ladang gas alam, tempat pembuangan sampah, kotoran hewan, dll.,  teknologi ini dapat digunakan untuk memproduksi bahan bakar tanpa merombak infrastruktur transportasi yang ada.
(SM, diambil dari berbagai Sumber)

 

Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.