DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Amerika telah berhasil menggunakan bakteri untuk memproduksi isobutanol

02 Mei 2011 Berita

 Dalam pencarian biofuel yang sempurna, berbagai perusahaan dan instansi pemerintah berlomba untuk mengungkap "peti ajaib" yang akan memungkinkan produksi biofuel yang efisien, dan murah. Alga, ragi dan bakteri semuanya telah memainkan peran mereka dalam mentransformasi berbagai feedstocks, bahkan CO2 dapat dibuat menjadi biofuel, seperti ethanol dan biodiesel. Namun, baik ethanol maupun biodiesel memiliki keterbatasan karena tidak bisa langsung digunakan di sebagian besar mesin bensin standar. Ethanol dapat dicampur dengan bensin, menjadi  campuran E3 atau E5, sedangkan biodiesel membutuhkan mesin diesel khusus agar berfungsi dengan baik.

Baru-baru ini, para peneliti di Departemen Energi Amerika Serikat telah mengumumkan sebuah terobosan baru dalam teknologi biofuel, dengan menciptakan biofuel yang dapat berlaku di sebagian besar mesin bensin standar. Biofuel ini disebut "isobutanol," dan dibuat menggunakan bakteri untuk mengubah materi tanaman menjadi substansi. Isobutanol memiliki nilai panas yang lebih tinggi daripada etanol sehingga lebih mirip dengan bensin, sehingga bisa menjadi pesaing bensin di masa depan. 

"Tidak seperti ethanol, isobutanol dapat dicampurkan dengan bensin pada sembarang rasio, dan mengeliminasi kebutuhan untuk infrastruktur tambahan dalam tanki atau kendaraan," kata James Liao, profesor dan wakil ketua Chemical and Biomolecular Engineering di UCLA Henry Samueli School of Engineering and Applied Science. "Ditambah lagi, isobutanol bisa digunakan langsung dalam spesifikasi mesin yang ada saat ini, tanpa modifikasi."

Sementara terobosan dalam teknologi biofuel ini sangat menarik, teknologi ini juga memiliki keterbatasan. Seperti kebanyakan biofuel yang memerlukan feedstock, pertanyaannya yaitu— berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk mempeoduksi biofuel, versus jumlah energi aktual yang diproduksikan. Dengan feedstock, materi tanaman harus dipupuk dan diangkut, yang juga membutuhkan penggunaan bahan bakar fosil. 

Meskipun demikian, terdapat harapan yakni penggunaan materi limbah/sampah sebagai feedstock bagi bakteri penghasil biofuel. Para peneliti dari Departemen Energi AS mengakui keterbatasan penggunaan feedstock dalam produksi biofuel, bahkan dalam pembuatan isobutanol,dan Sekretaris Kementerian Energi Steven Chu berkomentar, "Ini adalah contoh sempurna dari kesempatan yang dapat menciptakan industri baru - yang didasarkan pada materi-bio seperti jerami gandum, jerami padi, brangkasan jagung, limbah kayu, dan tanaman serta rumput-rumputan khusus yang dikembangkan untuk produksi biofuel yang membutuhkan lebih sedikit pupuk dan lebih sedikit input energi lainnya. Tetapi kita harus terus melanjutkan upaya penelitian dan pengembangan yang agresif. "

(Sumber: EnergyDigital)-SM
Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.