DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Irak bersiap memangkas target produksi minyak hingga setengah

10 Mei 2011 Berita

Kementerian Perminyakan Irak, didukung oleh Perdana Menteri Nouri al-Maliki, akan menetapkan target baru yakni produksi minyak antara 6,5 juta dan 7 juta barel per hari pada 2017, turun dari rencana awal untuk memompa 12 juta barel per hari pada 2017, demikian menurut sumber dari pihak industri dan pemerintah. Irak, yang merupakan anggota OPEC dan memproduksi 40 persen minyak dunia, saat ini memproduksi sekitar 2.68 juta barel minyak per hari. Konfirmasi bahwa Irak telah menganulir target produksi sebelumnya, akan menambah kekhawatiran bahwa pasokan global tidak akan mampu memenuhi permintaan di tahun-tahun mendatang.
Semula diharapkan bahwa dengan suntikan besar investasi asing, Irak akan mampu mengimbangi Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia dalam dekade ini. International Energy Agency memperkirakan bahwa lebih dari $US160 milyar akan dibutuhkan untuk memenuhi target 12 juta barel. Menteri perminyakan Irak juga menyadari bahwa fasilitas tangki dan pipa yang sudah aus tidak dapat menampung kenaikan produksi.
Baghdad tidak tertarik untuk mencoba mencapai target 12 juta barel pada tahun 2017 karena meningkatnya pasokan global akan menekan harga. Harga minyak yang tinggi, yang telah dua kali lipat naik sejak ditetapkannya target 12 juta barel di dua tahun lalu, juga akan dapat memberi kompensasi bagi Irak jikalaupun memproduksi lebih rendah. Menteri perminyakan Irak juga berpendapat bahwa tidak ada ekstra permintaan minyak, meskipun harga melambung.
Bulan lalu, Arab Saudi memangkas produksinya 800.000 barel per hari, setelah memompa lebih banyak dalam bulan-bulan sebelumnya, dalam upaya menanggapi krisis politik di Afrika Utara. Arab Saudi mengeluh bahwa minyak mentah ekstra tertimbun di kapal tanker tanpa ada pembeli.
Samuel Ciszuk, analis energi senior untuk IHS Energy, mengatakan bahwa target 12 juta barel adalah terlalu ambisius yang waktu itu dimotivasi politik  menjelang pemilu 2009. “Tidak semua percaya target 12 juta barel akan tercapai, dan sekarang jelas tidak ada target itu,  ini akan berdampak pada Pasar," demikian kata Mr Ciszuk.
Turunnya pasokan minyak di pasar dunia tentu akan memberikan tekanan dan melambungkan harga minyak ke depan. Bagi Indonesia, dengan kondisi impor yang mencapai 40% konsumsi dan masih terbebani dengan subsidi tentu harus melakukan perubahan mendasar terhadap kebijakan di bidang minyak (hulu-hilir). Bersamaan dengan itu, untuk mengurangi tekanan naiknya harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional, maka kebijakan untuk membatasi ekspor komoditas energi perlu segera diimplementasikan. Hal ini juga untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional dan menjaga kelangsungan pembangunan.


(Disadur dan ditambah dari The Times) - SM

Bagikan berita ini


© 2016 - 2019 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.