DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Ngeriung Bicara Sawit

16 Desember 2020 Berita

Majalah Sawit Indonesia menyelenggarakan Ngeriung Bicara Sawit (Ngebas) dengan tema Masa Depan Biodiesel Indonesia, Bincang Pakar Multi Perspektif secara daring (16/12/2020).

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto menjadi narasumber, bersama dengan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Dadan Kusdiana, Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fadhil Hassan, Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Petrus Gunarso, dan Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia Tatang Hernas Soerawidjaja.

Pemimpin Redakasi Majalah Sawit Indonesia Qayuum Amri menjelaskan mandatori biodiesel yang saat ini diimplementasikan sangat baik dan berharap semoga acara Ngeb…
[19:05, 12/16/2020] +62 817-0378-0000: Ngeriung Bicara Sawit

Majalah Sawit Indonesia menyelenggarakan Ngeriung Bicara Sawit (Ngebas) dengan tema Masa Depan Biodiesel Indonesia, Bincang Pakar Multi Perspektif secara daring (16/12/2020).

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto menjadi narasumber, bersama dengan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Dadan Kusdiana, Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fadhil Hassan, Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Petrus Gunarso, dan Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia Tatang Hernas Soerawidjaja.

Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia Qayuum Amri menjelaskan mandatori biodiesel yang saat ini diimplementasikan sangat baik dan berharap semoga acara Ngebas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Dalam kesempatan ini, Djoko menyampaikan mengenai Grand Srategi Energi (GSE), GSE memiliki visi mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Senada, Dadan menyampaikan pemanfaatan produk dan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi berkontribusi pada pencapaian target bauran energi terbarukan serta meningkatkan ketahanan energi yang berbasikan sumber daya dalam negeri.

Fadhil menyampaikan program B30 telah membawa manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi Indonesia, namun mengembangkan beyond B30 perlu dipertimbangkan dan dianalisa secara detail serta terukur dengan melakukan analisa net social benefit.

Sedangkan, Tatang menjelaskan biodiesel yang ideal yaitu tidak mengandung ester metil asam-asam lemak tak jenuh ganda, bertitik beku di bawah 5’C, dan bertitik-didih awal di bawah 250‘C.

Sementara Petrus menyampaikan solusi jangka pendek dan menengah dengan tata ruang kesepakatan, di Provinsi dimana saat ini banyak tumpang tindih antara hutan dan sawit seperti di Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Tengah.

Selain itu, Djoko menjelaskan tantangan pengembangan biodiesel antara lain keekonomian biodiesel (harga Crude Palm Oil (CPO) tinggi dengan harga solar rendah) dan ketersediaan bahan baku.

Adapun solusi yang disampaikan yaitu memberikan insentif biodiesel dari program Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang bersumber dari dana pungutan ekspor produsen CPO dan replanting (peremajaan) lahan kelapa sawit, pungkas Djoko. (Teks: TR/ Editor: KDW).

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.