DEN DEWAN ENERGI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

Webinar: Regulasi Energi Baru Terbarukan di Indonesia

24 Januari 2021 Berita

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dari Pemangku Kepentingan, Satya Widya Yudha menjadi narasumber Webinar Series IPCREE dengan tema Peraturan Pemerintah terhadap Investor lokal/asing untuk mengembangkan bisnis pada energi terbarukan dan alternatif di Indonesia melalui daring (24/01/2021).

Webinar Series IPCREE ini berupaya untuk mendapatkan pandangan dan mengetahui insentif energi baru terbarukan, memahami regulasi mengenai energi baru terbarukan serta mengetahui perkembangan bauran energi baru terbarukan di Indonesia.

Ardi Koto, Insiyur Tenaga Surya (ICAsolar), mengungkapkan bahwa pentingnya pengembangan energi baru terbarukan saat ini selain ramah lingkungan, karena di Indonesia sumber energi baru terbarukan sudah ada. Ardi Koto juga menyampaikan pengalamannya saat menjadi patriot energi dan mengembangkan PLTS di Desa Katimpun, pada dasarnya masyarakat sangat antusias dan mendukung pengembangan energi baru terbarukan untuk melistriki desanya.

Satya Widya Yudha, Anggota DEN dari Pemangku Kepentingan, menyampaikan dalam paparan singkatnya mengenai: ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi, komitmen dan target energi baru terbarukan di Indonesia dan capaian serta tantangan implementasi Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Satya menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sudah memiliki PP No.79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN)  dan Perpres No.22 tahun 2017 tentang RUEN, didalam KEN dan RUEN sudah sangat bagus dan detail mengenai target-target pengembangan energi baru terbarukan yang disusun oleh Anggota DEN diperiode sebelumnya, saat ini Anggota DEN periode 2020-2024 akan mengawasi dan mengontrol target yang sudah ditetapkan. Disamping itu, Satya juga menyampaikan beberapa tantangan energi dalam implementasi RUEN, antara lain: sumber energi saat ini masih menjadi komoditas dan sumber devisa Negara, belum sebagai modal pembangunan, akses infrastruktur energi masih terbatas dan harga energi baru terbarukan  masih belum kompetitif. Satya menutup bahwa pengembangan energi baru terbarukan harus didukung oleh seluruh pihak terkait.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menyampaikan bahwa saat ini banyak negara sangat fokus untuk mengurangi emisi dan pengurangan pemakaian energi fosil. Saat ini di Indonesia pemakaian energi fosil masih sangat dominan dan harus menjadi perhatian oleh seluruh pihak khususnya Dewan Energi Nasional. Fabby juga mengatakan bahwa regulasi yang ada saat ini juga belum secara penuh mendukung energi baru terbarukan, karena data eksplorasi batubara tahun 2020 diatas 400 juta ton dimana eksplorasi tersebut tidak sesuai dengan Perpres RUEN. Oleh sebab itu, Fabby mengatakan tidak hanya akselerasi pengembangan energi baru terbarukan yang penting namun komitmen Pemerintah merupakan kunci utama.

Hokkop Situngkir, Founder & Executive Director of IDNextleader, menyampaikan bahwa saat ini Indonesia termasuk dalam 15 negara kontributor emisi CO2 di dunia. Oleh sebab itu akselerasi  transisi energi baru terbarukan sangat penting untuk mengurangi emisi. Hokkop juga menyampaikan bahwa saat ini rasio elektrifikasi masih belum sesuai dengan target yang ditetapkan dalam Perpres RUEN, dan harus menjadi perhatian oleh lembaga DEN tentunya dengan mengedepankan pemakaian energi baru terbarukan sebagai sumber energi utamanya. (Teks: AM/ Editor: KDW).

Bagikan berita ini


© 2016 - 2021 Dewan Energi Nasional. All rights reserved.